Biografi Rudolf Otto

Otto yang dilahirkan di Peine dekat Hanover, belajar di Gymnasium Adreanum di Hildesheim lalu melanjutkan studinya di Universitas Erlangen dan Göttingen. Dari situ ia mendapatkan gelar doktornya (dengan disertasi tentang Luther) dan habilitasinya tentang Kant. Pada 1906, ia menjadi profesor luar biasa (lihat profesor), dan pada 1910 ia mendapatkan gelar doktor kehormatan dari Universitas Giessen. Pada 1915, ia menjadi profesor penuh di Universitas Breslau, dan pada 1917, di Sekolah Teologi Universitas Marburg, yang saat itu merupakan salah satu seminari Protestan yang paling termasyhur di dunia. Meskipun ia mendapatkan beberapa undangan lainnya, ia tetap tinggal di Marburg hingga akhir hayatnya. Ia pensiun pada 1929 dan meninggal delapan tahun kemudian, kemungkinan sebagai akibat dari infeksi malaria yang diperolehnya dalam salah satu dari sekian banyak ekspedisinya. Ia dikebumikan di pemakaman Marburg.
Karyar-karya Otto

Karya Otto yang paling termasyhur The Idea of the Holy (Gagasan tentang Yang Kudus) (pertama kali terbit pada 1917 sebagai Das Heilige), adalah salah satu buku teologi Jerman abad ke-20 yang paling berhasil. Buku ini terus-menerus dicetak ulang dan kini tersedia dalam 20 bahasa. Buku ini mendefinisikan konsep tentang yang kudus sebagai apa yang dianggap numinus. Otto menjelaskan yang numinus sebagai “pengalaman yang non-rasional dan tidak terinderakan, atau perasaan yang objek utamanya yang langsung berada di luar diri pribadi”. Ia menciptakan istilah yang baru ini berdasarkan kata bahasa Latin, numen (Tuhan). Ungkapan ini secara etimologis tidak berkaitan dengan gagasan Immanuel Kant tentang noumenon, yaitu sebuah istilah bahasa Yunani yang merujuk kepada suatu realitas yang tidak dapat diketahui yang ada di balik segala sesuatu. Yang numinus adalah sebuah misteri ([bahasa Latin]]: mysterium tremendum) yang mempesona (fascinans) dan sekaligus juga menakutkan. Hal ini juga menjadi paradigma bagi studi agama-gama yang memusatkan perhatian pada kebutuhan untuk menyadari hal-hal yang religius sebagai sebuah kategori orisinal di dalam dirinya sendiri, yang tidak dapat direduksi. Paradigma ini mendapat banyak serangan antara sekitar 1950 dan 1990 tetapi sejak itu telah kembali mendapatkan tempatnya lagi.

Teolog Jerman-Amerika Paul Tillich mengakui pengaruh Otto pada dirinya, seperti halnya juga antropolog Rumania-Amerika Mircea Eliade. Eliade menggunakan konsep-konsep dari The Idea of the Holy sebagai titik tolak bagi bukunya sendiri yang terbit pada 1957, The Sacred and the Profane.

Edmund Husserl Sebagai Bapak Fenomenologi

Edmund Husserl Sebagai Bapak Fenomenologi

Fenomenologi sebagai suatu gerakan filsafat hingga memperoleh bentuk seperti sekarang ini, pertama kali diintrodusir oleh filsuf Jerman Edmund Gustav Aibercht Husserl, lahir di Prestejov (dahulu Prossnitz) di Czechoslovakia 8 April 1859 dari keluarga yahudi. Di universitas ia belajar ilmu alam, ilmu falak, matematika, dan filsafat; mula-mula di Leipzig kemudian juga di Berlin dan Wina. Di Wina ia tertarik pada filsafat dari Brentano. Dia mengajar di Universitas Halle dari tahun 1886-1901, kemudian di Gottingen sampai tahun 1916 dan akhirnya di Freiburg. Ia juga sebagai dosen tamu di Berlin, London, Paris, dan Amsterdam, dan Prahara. Husserl terkenal dengan metode yang diciptakan olehnya yakni metode “Fenomenologi” yang oleh murid-muridnya diperkembangkan lebih lanjut. Husserl meninggal tahun 1938 di Freiburg. Untuk menyelamatkan warisan intelektualnya dari kaum Nazi, semua buku dan catatannya dibawa ke Universitas Leuven di Belgia.[1]

Fenomenologi ialah ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak (phenomena). Fenomenologi dengan demikian, merupakan ilmu yang mempelajari, atau apa yang menampakkan diri fenomenon. Karena itu, setiap penelitian atau setiap karya yang membahas cara penampakkan dari apa saja, sudah merupakan fenomenologi.

Fenomenologi

           Istilah fenomenologi secara etimologis berasal dari kata fenomena dan logos. Arti kata logos sudah tidak perlu dijelaskan lagi, sebab sudah menjadi pengertian umum dan dikenal dalam berbagai susunan. Sedangkan kata fenomena berasal dari kata kerja Yunani “phainesthai” yang berarti menampak, dan terbentuk dari akar kata fantasi, fantom, dan fosfor yang artinya sinar atau cahaya. Dari kata itu terbentuk kata kerja, tampak, terlihat karena bercahaya. Dalam bahasa kita berarti cahaya. Secara harfiah fenomena diartikan sebagai gejala atau sesuatu yang menampakkan. meski sebenarnya istilah tersebut telah digunakan oleh beberapa filsuf sebelumnya. Secara umum pendangan fenomenologi ini bisa dilihat pada dua posisi, yang pertama ia merupakan reaksi terhadap dominasi positiveme sebagaimana di gambarkan di atas, dan yang kedua, ia sebenarnya sebagai kritik terhadap pemikiran kritisisme Imanuel Kant, terutama konsepnya tentang fenomenon –fenomenon. Fenomenologi ialah ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak (phenomena). Fenomenologi dengan demikian, merupakan ilmu yang mempelajari, atau apa yang menampakkan diri fenomenon. Karena itu, setiap penelitian atau setiap karya yang membahas cara penampakkan dari apa saja, sudah merupakan fenomenologi

Seperti yang telah kita ketahui, konsepsi Kant tentang peoses pengetahuan manusia adalah suatu proses sintesa antara apa yang ia sebut dengan apriori dan aposteriori. Yang pertama merupakan aktivitas rasio yang aktif dan dinamis dalam membangun, dan berfungsi sebagai bentuk (form) pengetanuan, sedang yang kedua merupakan cerapan pengalaman yang berfungsi sebagai ‘isi’ (matter) pengetahuan, yang terdiri dari fenomena objek. Karena rasio bersifat aktif dalam mengkonstruk fenomena menjadi pengetahuan sesuai dengan kategori –kategori rasio, maka pengetanuan manusia tidak mungkin menjangkau noumena.

Dari sini tampak bahwa Kant menggunakan kata fenomena untuk menunjukan penampakan sesuatu dalam kesadatan sedangkan noumena adalah realitas ( das Ding an Sich)  yang berada di luar kesadaran pengamat. Menurut Kant, manusia hanya dapat mengenal fenomena – fenomena yang nampak dalam kesadaran, bukan noumena yaitu realitas di luar ( berupa benda –benda atau nampak tetap menjadi objek kesadaran kita ) yang kita kenal. Noumena yang selalu tetap menjadi teka teki dan tinggal sebagai “x” yang tidak dapat di kenal karena ia terselubungdari kesadaran kita. fenomena yang nampak dalam kesadaran  kita ketika berhadapan dengan realitas ( noumena ) itulah yang kita kenal. Melihat warna merah, misalnya tidak lain adalah hasil cerapan indrawi yang membentuk pengalaman batin yang diakibatkan oleh sesuatu dari luat. Warna merah itu sendiru merupakan realitas yang tidak di kenal pada diri sendiri ( in se ). Ini berarti kesadaran kita tertutup dan terisolasi dari realitas. Demikianlah, Kant sebenarnya mengakui adanya realitas eksternal yang berada di luar diri manusia, yaitu sebuah realitas itu ia sebut das Ding as Sich ( objek pada dirinya sendiri ) atau noumena, tetapi menurutnya, manusia tidak ada sarana –ilmiah untuk mengetahuinya.

Sebagai reaksi terhadap pemikiran sebelumnya, berikut ini akan dibahas dua pandangan fenomenologi yang cukup penting yaitu prinsif epoche dan eidetic vision dan konsep “ dunia kehidupan” ( lebenswslt).

Jadi , Fenomenologi adalah ilmu tentang esensi-esensi kesadaran dan esensi ideal dari obyek-obyek sebagai korelat kesadaran . Pertanyaannya, bagaimana esensi-esensi tersebut, tanpa terkontaminasi kecenderungan psikologisme dan naturalisme? Husserl mengajukan satu prosedur yang dinamakan epoche (penundaan semua asumsi tentang kenyataan demi memunculkan esensi). Tanpa penundaan asumsi naturalisme dan psikolgisme, kita akan terjebak pada dikotomi. Dikotomi diartikan sebagai klasifikasi ke dalam dua kelas sebagai sifat-sifat paradoks yang berpasangan; pembagian dua konsep yang bertentangan satu sama lain) (subyek-obyek yang menyesatkan/bertentangan satu sama lain). Tujuan epoche adalah mengembalikan sikap kita kepada dunia, yakni sikap yang menghayati, bukan memikirkan benda-benda. Contohnya, saat mengambil gelas, saya tidak memikirkan secara teoritis (tinggi, berat dan lebar) melainkan menghayatinya sebagai wadah penampung air untuk diminum. Ini yang hilang dari pengalaman kita, kalau kita menganut asumsi naturalisme. Dan ini yang kembali dimunculkan oleh Husserl. Akar filosofis fenomenologi Husserl ialah dari pemikiran gurunya, Franz Bretano. Dari Brentano-lah Husserl mengambil konsep filsafat sebagai ilmu yang rigoris, Rigoris merupakan suatu sikap pikiran di mana dalam pertentangan pendapat mengenai boleh tidaknya suatu tindakan, bersikeras mempertahankan pandangan yang sempit dan ketat) (sikap pikiran di mana dalam pertentangan pendapat mengenai boleh tidaknya suatu tindakan); sebagaimana juga bahwa filsafat terdiri atas deskripsi dan bukan penjelasan kausal.

Sebelum tahun 1908 Husserl dan gurunya, mengartikan fenomenologi sebagai “fenomenologi psikologis”, yaitu Psikologi Deskriptif. Psikologi yang hanya mencatat apa yang dilihat, tanpa mencari keterangan-keterangan mengenai sebab gejala-gejala. Husserl berkata bahwa “kita perlu kembali ke benda-benda sendiri” (Zu den Sachen selbst). Obyek-obyek harus diberi kesempatan untuk berbicara. Deskripsi fenomenologis tidak dimaksudkan untuk menggantikan keterangan ilmiah, melainkan baru sebagai persiapan untuk keterangan ilmiah. Melalui deskripsi fenomenologis dicari Wesenchau: melihat (secara intuitif) hakekat gejala-gejala. Untuk mencapai hal ini, kita harus memakai metode variasi eidetis (dalam fantasi, kita membayangkan gejala dalam macam-macam keadaan yang berbeda), sehingga tampak apa yang merupakan batas invariabel dalam situasi-situasi yang berbeda ini. Yang muncul sebagai sesuatu yang berubah-ubah itu disebut wesen, yang dicari.

Setelah tahun 1908 Fenomenologi Husserl menjadi “fenomenologi Transendental”. Dia berpendapat dalam periode ini bahwa kesadaran bukan bagian dari kenyataan, melainkan asal dari kenyataan. Husserl menolak kesadaran bipolaritas (kesadaran dan alam, subyek dan obyek). Artinya kesadaran tidak menemukan obyek-obyek. Obyek-obyek diciptakan oleh kesadaran. Dengan pendapat ini, Husserl dekat dengan idealisme. Bagi ilmu-ilmu, kesadaran dan alam memang tampak sebagai dua pola dalam kenyataan, namun harus dipasang dalam suatu ideologi idealitas yang hanya masih menerima satu pola, yaitu kesadaran.

Dengan demikian fenomenologi adalah upaya untuk memahami kesadaran dari sudut pandang subyektif orang terkait. Pendekatan ini tentu saja berbeda dengan pendekatan ilmu pengetahuan saraf (neuroscience), yang berusaha memahami cara kerja kesadaran manusia di dalam otak dan saraf, yakni dengan menggunakan sudut pandang pengamat. Neurosains lebih melihat fenomena kesadaran sebagai fenomena biologis. Sementara deskripsi fenomenologis lebih melihat pengalaman manusia sebagaimana ia mengalaminya, yakni dari sudut pandang orang pertama.

Walaupun berfokus pada pengalaman subyektif orang pertama, fenomenologi tidak berhenti hanya pada deskripsi perasaan-perasaan inderawi semata. Pengalaman inderawi hanyalah titik tolak untuk sampai makna yang bersifat konseptual (conceptual meaning), yang lebih dalam dari pengalaman inderawi itu sendiri. Makna konseptual itu bisa berupa imajinasi, pikiran, hasrat, ataupun perasaan-perasaan spesifik, ketika orang mengalami dunianya secara personal.

Jika fenomenologi berfokus pada pengalaman manusia, lalu apa kaitan fenomenologi dengan psikologi sebagai ilmu tentang perilaku manusia? Husserl sendiri merumuskan fenomenologi sebagai tanggapan kritisnya terhadap psikologi positivistik, yang menolak eksistensi kesadaran, dan kemudian menyempitkannya semata hanya pada soal perilaku. Oleh sebab itu menurut Smith, fenomenologi Husserl lebih tepat disebut sebagai psikologi deskriptif, yang merupakan lawan dari psikologi positivistik.

Di dalam fenomenologi konsep makna (meaning) adalah konsep yang sangat penting. “Makna”, demikian tulis Smith tentang Husserl, “adalah isi penting dari pengalaman sadar manusia..” Pengalaman seseorang bisa sama, seperti ia bisa sama-sama mengendari sepeda motor. Namun makna dari pengalaman itu berbeda-beda bagi setiap orang. Maknalah yang membedakan pengalaman orang satu dengan pengalaman orang lainnya. Makna juga yang membedakan pengalaman yang satu dan pengalaman lainnya. Suatu pengalaman bisa menjadi bagian dari kesadaran, juga karena orang memaknainya. Hanya melalui tindak memaknailah kesadaran orang bisa menyentuh dunia sebagai suatu struktur teratur (organized structure) dari segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Namun begitu menurut Husserl, makna bukanlah obyek kajian ilmu-ilmu empiris. Makna adalah obyek kajian logika murni (pure logic). Pada era sekarang logika murni ini dikenal juga sebagai semantik (semantics). Maka dalam arti ini, fenomenologi adalah suatu sintesis antara psikologi, filsafat, dan semantik (atau logika murni).

Bagi Husserl fenomenologi adalah suatu bentuk ilmu mandiri yang berbeda dari ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial. Dengan fenomenologi Husserl mau menantang semua pendekatan yang bersifat biologis-mekanistik tentang kesadaran manusia, seperti pada psikologi positivistik maupun pada neurosains. Ia menyebut fenomenologi sebagai ilmu pengetahuan transendental (transcendental science), yang dibedakan dengan ilmu pengetahuan naturalistik (naturalistic science), seperti pada fisika maupun biologi. Dan seperti sudah disinggung sebelumnya, perbedaan utama fenomenologi dengan ilmu-ilmu alam, termasuk psikologi positivistik, adalah peran sentral makna di dalam pengalaman manusia (meaning in experience). Fenomenologi tidak mengambil langkah observasi ataupun generalisasi di dalam penelitian tentang manusia, seperti yang lazim ditemukan pada psikologi positivistik.

Cita-cita Husserl adalah mengembangkan fenomenologi sebagai suatu displin ilmiah yang lengkap dengan metode yang jelas dan akurat. Di dalam ilmu-ilmu alam, seperti kimia, fisika, dan biologi, kita mengenal adalah metode penelitian ilmu-ilmu alam yang sifatnya empiris dan eksperimental. Inti metode penelitian ilmu-ilmu alam adalah melakukan observasi yang sifatnya sistematis, dan kemudian menganalisisnya dengan suatu kerangka teori yang telah dikembangkan sebelumnya. Husserl ingin melepaskan diri dari cara berpikir yang melandasi metode penelitian semacam itu. Baginya untuk memahami manusia, fenomenologi hendak melihat apa yang dialami oleh manusia dari sudut pandang orang pertama, yakni dari orang yang mengalaminya.

Di dalam kerangka berpikir ini, seorang ilmuwan sekaligus adalah sekaligus peneliti dan yang diteliti. Ia adalah subyek sekaligus obyek dari penelitian. Dan seperti sudah ditegaskan sebelumnya, fenomenologi adalah cara untuk memahami kesadaran manusia dengan menggunakan sudut pandang orang pertama. Namun menurut penelitian Smith, Husserl membedakan tingkat-tingkat kesadaran (state of consciousness). Yang menjadi fokus fenomenologi bukanlah pengalaman partikular, melainkan struktur dari pengalaman kesadaran, yakni realitas obyektif yang mewujud di dalam pengalaman subyektif orang per orang. Konkretnya fenomenologi berfokus pada  makna subyektif dari realitas obyektif di dalam kesadaran orang yang menjalani aktivitas kehidupannya sehari-hari. Dalam kosa kata Husserl, “obyek kesadaran sebagaimana dialami.”

Fenomenologi Husserlian adalah ilmu tentang esensi dari kesadaran. Namun apa sebenarnya yang dimaksud dengan esensi dari kesadaran? Berdasarkan penelitian Smith fenomenologi Husserl dibangun di atas setidaknya dua asumsi. Yang pertama, setiap pengalaman manusia sebenarnya adalah satu ekspresi dari kesadaran. Seseorang mengalami sesuatu. Ia sadar akan pengalamannya sendiri yang memang bersifat subyektif. Dan yang kedua, setiap bentuk kesadaran selalu merupakan kesadaran akan sesuatu. Ketika berpikir tentang makanan, anda membentuk gambaran tentang makanan di dalam pikiran anda. Ketika melihat sebuah mobil, anda membentuk gambaran tentang mobil di dalam pikiran anda. Inilah yang disebut Husserl sebagai intensionalitas (intentionality), yakni bahwa kesadaran selalu merupakan kesadaran akan sesuatu.

Tindakan seseorang dikatakan intensional, jika tindakan itu dilakukan dengan tujuan yang jelas. Namun di dalam filsafat Husserl, konsep intensionalitas memiliki makna yang lebih dalam. Intensionalitas tidak hanya terkait dengan tujuan dari tindakan manusia, tetapi juga merupakan karakter dasar dari pikiran itu sendiri. Pikiran tidak pernah pikiran itu sendiri, melainkan selalu merupakan pikiran atas sesuatu. Pikiran selalu memiliki obyek. Hal yang sama berlaku untuk kesadaran. Intensionalitas adalah keterarahan kesadaran (directedness of consciousness). Dan intensionalitas juga merupakan keterarahan tindakan, yakni tindakan yang bertujuan pada satu obyek.

Namun Husserl juga melihat beberapa pengalaman konkret manusia yang tidak mengandaikan intensionalitas, seperti ketika anda merasa mual ataupun pusing. Kedua pengalaman itu bukanlah pengalaman tentang suatu obyek yang konkret. Namun pengalaman itu sangatlah jarang, kecuali anda yang menderita penyakit tertentu. Mayoritas pengalaman manusia memiliki struktur. Mayoritas pengalaman manusia melibatkan kesadaran, dan kesadaran selalu merupakan kesadaran atas sesuatu. Husserl menyebut setiap proses kesadaran yang terarah pada sesuatu ini sebagai tindakan (act). Dan setiap tindakan manusia selalu berada di dalam kerangka kebiasaan (habits), termasuk di dalamnya gerak tubuh dan cara berpikir.

Fenomenologi adalah analisis atas esensi kesadaran sebagaimana dihayati dan dialami oleh manusia, dan dilihat dengan menggunakan sudut pandang orang pertama. Fenomenologi menganalisis struktur dari persepsi, imajinasi, penilaian, emosi, evaluasi, dan pengalaman orang lain yang terarah pada sesuatu obyek di luar. Dengan demikian menurut Smith, fenomenologi Husserl adalah suatu penyelidikan terhadap relasi antara kesadaran dengan obyek di dunia luar, serta apa makna dari relasi itu. Konsep bahwa kesadaran selalu terarah pada sesuatu merupakan konsep sentral di dalam fenomenologi Husserl.

Kesimpulan

Seperti sudah disinggung sebelumnya, fenomenologi adalah suatu refleksi atas kesadaran dari sudut pandang orang pertama. Konkretnya fenomenologi hendak menggambarkan pengalaman manusia sebagaimana ia mengalaminya melalui pikiran, imajinasi, emosi, hasrat, dan sebagainya. Dalam hal ini Husserl sangat berhutang pada Bretano. Bretano sendiri membedakan dua jenis psikologi, yakni psikologi deskriptif yang dikenal juga sebagai fenomenologi, dan psikologi genetis (genetic psychology). Psikologi deskriptif hendak memahami dinamika kehidupan mental manusia. Sementara psikologi genetis ingin memahami dinamika mental manusia dengan kaca mata ilmu-ilmu genetika yang sifatnya biologistik. Di dalam pemikiran Husserl, fenomenologi menjadi suatu displin yang memiliki status otonom. Ia pun merumuskannya secara lugas, yakni sebagai ilmu tentang esensi kesadaran. Dan berulang kali ia menegaskan, bahwa kesadaran manusia tidak pernah berdiri sendiri. Kesadaran selalu merupakan kesadaran atas sesuatu. Inilah yang disebut dengan intensionalitas, suatu konsep yang sangat sentral di dalam fenomenologi Husserl.

Husserl kemudian mencoba mengembangkan teori intensionalitas ini. Setiap tindakan manusia selalu melibatkan kesadaran, dan kesadaran selalu merupakan kesadaran atas suatu obyek yang nyata di dunia. Manusia adalah subyek dan subyek selalu terarah pada suatu obyek yang nyata di dunia. Obyek dari kesadaran dan tindakan manusia tidak pernah berada di dalam ruang kosong, melainkan selalu berada di dalam horison makna tertentu. Maka dari itu intensionalitas kesadaran selalu melibatkan relasi rumit antara subyek (manusia) yang sadar, tindakan, obyek, dan horison dari obyek tersebut. Relasi rumit di dalam intensionalitas kesadaran itulah yang menjadi dasar dari fenomenologi.

Setelah menjadikan intensionalitas kesadaran sebagai dasar filsafatnya, Husserl kemudia menganalisis struktur-struktur dasar kesadaran secara detil, seperti persepsi, penilaian, tindakan, ruang, waktu, tubuh, keberadaan orang lain, dan sebagainya. Subyek (manusia) dan obyek selalu berada di dalam horison makna tertentu yang disebut Husserl sebagai dunia kehidupan (life-world). Secara singkat dunia kehidupan adalah dunia di sekeliling manusia yang dialaminya secara familiar di dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam dunia kehidupan, manusia memperoleh makna dan identitasnya sebagai manusia. Dalam arti ini fenomenologi adalah suatu upaya untuk memahami kesadaran manusia dalam konteks kaitan dengan dunia kehidupannya.

Fenomenologi Husserl hendak menganalisis dunia kehidupan manusia sebagaimana ia mengalaminya secara subyektif maupun intersubyektif dengan manusia lainnya. Sebenarnya ia membedakan antara apa yang subyektif, intersubyektif, dan yang obyektif. Yang subyektif adalah pengalaman pribadi kita sebagai manusia yang menjalani kehidupan. Obyektif adalah dunia di sekitar kita yang sifatnya permanen di dalam ruang dan waktu. Dan intersubyektitas adalah pandangan dunia semua orang yang terlibat di dalam aktivitas sosial di dalam dunia kehidupan. Interaksi antara dunia subyektif, dunia obyektif, dan dunia intersubyektif inilah yang menjadi kajian fenomenologi. Fenomenologi membuka kesadaran baru di dalam metode penelitian filsafat dan ilmu-ilmu sosial. Kesadaran bahwa manusia selalu terarah pada dunia, dan keterarahan ini melibatkan suatu horison makna yang disebut sebagai dunia kehidupan. Di dalam konteks itulah pemahaman tentang manusia dan kesadaran bisa ditemukan.***

Husserl membedakan antara dunia yang dikenal dalam sains dan dunia di mana kita hidup. Selanjutnya Ia juga mendiskusikan tentang kesadaran dan perhatian terhadap dunia di mana kita hidup. Kita dapat menganggap sepi objek apapun tetapi kita tidak dapat menganggap sepi kesadaran kita. Eksistensi kesadaran adalah satu-satunya benda yang tidak dapat dianggap sepi. Pengkajian tentang dunia yang kita hayati serta pengalaman kita yang langsung tentang dunia tersebut adalah pusat perhatian fenomenologi. Pandangan Husserl tentang perhatian dan intuisi telah memberikan pengaruh kuat terhadap filsafat, khususnya di Jerman dan Perancis. Setelah tahun 1908 Fenomenologi Husserl menjadi “fenomenologi Transendental”. Dia berpendapat dalam periode ini bahwa kesadaran bukan bagian dari kenyataan, melainkan asal dari kenyataan. Husserl menolak kesadaran bipolaritas (kesadaran dan alam, subyek dan obyek). Artinya kesadaran tidak menemukan obyek-obyek. Obyek-obyek diciptakan oleh kesadaran. Dengan pendapat ini, Husserl dekat dengan idealisme. Bagi ilmu-ilmu, kesadaran dan alam memang tampak sebagai dua pola dalam kenyataan, namun harus dipasang dalam suatu ideologi idealitas yang hanya masih menerima satu pola, yaitu kesadaran.

Husserl mengajukan satu prosedur yang dinamakan epoche (penundaan semua asumsi tentang kenyataan demi memunculkan esensi). Tanpa penundaan asumsi naturalisme dan psikolgisme, Kita akan terjebak pada dikotomi (subyek-obyek yang menyesatkan atau bertentangan satu sama lain).

Contohnya, saat mengambil gelas, kita tidak memikirkan secara teoritis (tinggi, berat, dan lebar) melainkan menghayatinya sebagai wadah penampung air untuk diminum. Ini yang hilang dari pengalaman kita kalau kita menganut asumsi naturalisme. Dan ini yang kembali dimunculkan oleh Husserl. Akar filosofis fenomenologi Husserl ialah dari pemikiran gurunya, Franz Brentano. Dari Brentano-lah Husserl mengambil konsep filsafat sebagai ilmu yang rigoris (sikap pikiran di mana dalam pertentangan pendapat mengenai boleh tidaknya suatu tindakan atau bersikeras mempertahankan pandangan yang sempit dan ketat). Sebagaimana juga bahwa filsafat terdiri atas deskripsi dan bukan penjelasan kausal. Karena baginya fenomenologi bukan hanya sebagai filsafat tetapi juga sebagai metode, karena dalam fenomenologi kita memperoleh langkah-langkah dalam menuju suatu fenomena yang murni.

Fakta bahwa kesadaran selalu terarah kepada obyek-obyek disebut intensionalitas. Hasil dari metode fenomenologi Husserl ialah perhatian baru untuk intensionalitas kesadaran. Kesadaran tidak pernah pasif karena menyadari sesuatu berarti mengubah sesuatu. Kesadaran itu bukan berarti suatu cermin atau foto. Kesadaran itu suatu tindakan. Artinya terdapat interaksi antara tindakan kesadaran dengan obyek kesadaran. Namun interaksi ini tidak boleh dianggap sebagai kerjasama antara dua unsur yang sama penting. Karena akhirnya, hanya ada kesadaran, obyek yang disadari itu hanyalah suatu ciptaan kesadaran.


[1] Delfgaauw, Bernard, Filsafat Abad XX, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1988.

Tujuh Orang Bodoh yang Menjadi Milyarder

 1. Bill Gates

(jelajahunik) Nah, ada yang tidak kenal Bill Gates? William Henry Gates III, atau yang lebih dikenal Bill Gates adalah pendiri (bersama Paul Allen) dan ketua umum perusahaan perangkat lunak AS, Microsoft. Ia juga merupakan seorang filantropis melalui kegiatannya di Yayasan Bill & Melinda Gates. Ia menempati posisi pertama dalam orang terkaya di dunia versi majalah Forbes selama 13 tahun (1995 hingga 2007). Siapa sangka dia DO dari Harvard dan sebelumnya pernah bekerja sebagai Office Boy

2. Aristotle Onassis

Di sekolah, ia bodoh dan suka mencari perkara, mengikuti contoh banyak orang kaya. Tidak aneh kalau ia diusir dari beberapa sekolah. Ia paling sering menduduki ranking terbawah di kelasnya. Salah seorang gurunya berkata:
Teman-teman sekelas memuja dia, tetapi guru guru dan keluarganya berputus asa. Selagi ia masih muda, dengan mudah orang dapat melihat bahwa dia akan menjadi seorang di antara mereka yang akan menghancurkan diri sama sekali atau sukses secara gilang-gemilang. Walaupun raportnya di sekolah jauh dari bagus, bakatnya untuk berdagang dan mencari uang telah tampak sejak dini. Akhirnya dia menjadi seorang milyuner.

3. Louis Braille

Louis Braille mengalami kerusakan pada salah satu matanya ketika berusia 3 tahun. Waktu itu secara tidak sengaja dia menikam matanya sendiri dengan alat pembuat lubang dari perkakas kerja ayahnya. Kemudian mata yang satunya terkena sympathetic ophthalmia, sejenis infeksi yang terjadi karena kerusakan mata yang lainnya. Kebutaan tidak membuatnya putus asa, ia menciptakan abjad Braille yang membantu orang buta juga bisa membaca. Sekarang siapa yang tidak tahu Abjad Braille?

4. Chris Gardner

Sudah pernah nonton film atau baca buku Pursuit of Happyness ? Itulah kisah nyata kehidupan Christoper Paul Gardner yang diperankan oleh Will Smith. Pahit manisnya kehidupan tampaknya sudah dirasakan olenya. Kehilangan tempat tinggal, ditinggal istri, ditangkap polisi, kesulitan membayar kredit, semuanya sudah dirasakan. Dia bukanlah orang berpendidikan tinggi tapi dia terus berusaha dan berjuang, Kini dia menjadi seorang milyuner sukses, motivator, entrepeneur dan filantropis. Sekarang dia mempunyai Gardner Rich & Co, sebuah perusahaan pialang saham.

5. Ludwig Van Beethoven

Jika anda mengenal seorang wanita yang sedang hamil, yang telah mempunyai 8 anak, tiga diantaranya tuli, dua buta, satu mengalami gangguan mental dan wanita itu sendiri mengidap sipilis, apakah anda akan menyarankannya untuk menggugurkan kandungannya? Jika anda menjawab ya, maka anda baru saja membunuh salah satu komponis masyur dunia. Karena anak yang dikandung oleh sang ibu tersebut adalah Ludwig Van Beethoven. Ketika Beethoven berumur di ujung dua puluhan, tanda-tanda ketuliannya mulai tampak, tapi akhirnya ia menjadi Komponis yang terkenal dengan karya 9 simfoni, 32 sonata piano, 5 piano concerto, 10 sonata untuk piano dan biola, serangkaian kuartet gesek yang menakjubkan, musik vokal, musik teater, dan banyak lagi.

6. Adam Khoo

Dia orang Singapura. Waktu kecil, ia adalah penggemar berat games dan TV. Sehari, ia bisa berjam-jam di depan TV. Baik main PS atau nonton TV.
Adam Khoo pun dikenal sebagai anak bodoh. Ketika kelas empat SD, Ia dikeluarkan dari sekolah. Ia pun masuk ke SD terburuk di Singapura. Ketika akan masuk SMP, ia ditolak oleh enam SMP terbaik di sana. Akhirnya, ia bisa masuk ke SMP terburuk di Singapura. Begitu terpuruknya prestasi akademisnya, tapi lama kelamaan membaik justru karena cemoohan teman-temannya, hingga akhirnya memperoleh kesuksesan di dunia bisnis.
Prestasi Adam di dunia bisnis ditandai pada saat Adam berusia 26 tahun. Ia telah memiliki empat bisnis dengan total nilai omset per tahun US$ 20 juta.
Kisah bisnis Adam dimulai ketika ia berusia 15 tahun. Ia berbisnis music box. Bisnis berikutnya adalah bisnis training dan seminar. Pada usia 22 tahun, Adam Khoo adalah trainer tingkat nasional di Singapura. Klien-kliennya adalah para manager dan top manager perusahaan-perusahaan di Singapura. Bayarannya mencapai US$ 10.000 per jam.

7. Albert Enstein

Siapa yang belum tahu Albert Einstein? Dialah Ilmuwan terkenal abad 20 yang terkenal dengan teori relativitasnya. Dia juga salah satu peraih Nobel. Siapa sangka dia adalah seorang anak yang terlambat berbicara dan juga mengidap Autisme. Waktu kecil dia juga suka lalai dengan pelajaran.

Upacara Keagamaan Budha

1. Pengertian upacara

1) Suatu cetusan hati nurani manusia terhadap suatu keadaan.
2) Sebagai salah satu bentuk kebudayaan dapat kita selenggarakan sesuai dengan tradisi dan perkembangan jaman asalkan selalu didasarkan pada pandangan benar.
3) Buddha Dhamma sebagai ajaran universal, tidak mengalami perubahan (pengurangan maupun tambahan). Oleh sebab itu, manifestasi pemujaan kita pada Tiratana yang dijelmakan dalam bentuk upacara & cara kebaktian hendaknya tetap didasari dengan pandangan benar sehingga tidak menyimpang dari Buddha Dhamma itu sendiri.

2. Sejarah terjadinya upacara dalam agama Buddha

1) Sang Buddha tidak pernah mengajar cara upacara. Sang Buddha hanya mengajarkan Dhamma agar semua makhluk terbebas dari penderitaan.
2) Upacara yang ada pada saat itu hanyalah upacara penahbisan bhikkhu & samanera.
3) Upacara yang sekarang ini kita lihat merupakan perkembangan dari kebiasaan yang ada, yang terjadi sewaktu Sang Buddha masih hidup, yaitu yang disebut `Vattha’, yang artinya kewajiban yang harus dipenuhi oleh para bhikkhu seperti merawat Sang Buddha, membersihkan ruangan, mengisi air, dsb; dan kemudian mereka semua bersama dengan umat lalu duduk mendengarkan khotbah Sang Buddha.
4) Setelah Sang Buddha parinibbana, para bhikkhu dan umat tetap berkumpul untuk mengenang Sang Buddha dan menghormat Sang Tiratana, yang sekaligus merupakan kelanjutan kebiasaan Vattha.

3. Dua cara pemujaan

Dalam agama Buddha juga terdapat ajaran tentang `pemujaan’. Namun, pemujaan dalam agama Buddha ditujukan pada obyek yang benar (patut) dan didasarkan pada pandangan benar. Menurut naskah Pali – Dukanipata, Anguttara Nikaya, Sutta Pitaka, ada dua cara pemujaan, yaitu:

A. Amisa Puja

1) Makna Amisa Puja
– Secara hafafiah berarti pemujaan dengan persembahan. Kitab Mangalattha-dipani menguraikan empat hal yang perlu diperhatikan dalam menerapkan Amisa Puja ini, yaitu:
a. Sakkara: memberikan persembahan materi
b. Garukara: menaruh kasih serta bakti terhadap nilai-nilai luhur
c. Manana: memperlihatkan rasa percaya/yakin
d. Vandana: menguncarkan ungkapan atau kata persanjungan.

– Selain itu, ada tiga hal lagi yang juga harus diperhatikan agar Amisa Puja dapat diterapkan dengan sebaik-baiknya. Ketiga hal tersebut yaitu :
a. Vatthu sampada: kesempurnaan materi
b. Cetana sampada: kesempurnaan dalam kehendak
c. Dakkhineyya sampada : kesempurnaan dalam obyek pemujaan

2) Sejarah Amisa Puja
Asal mulanya dari kebiasaan Bhikkhu Ananda yg selalu merawat Sang Buddha.

B. Patipatti Puja

1) Makna Patipatti Puja
Secara harafiah berarti pemujaan dengan pelaksanaan. Sering juga disebut sebagai Dhammapuja.
Menurut Kitab Paramatthajotika, yang dimaksud “pelaksanaan” dalam hal ini adalah :
a. Berlindung pada Tisarana (Tiga Perlindungan), yakni Buddha, Dhamma, dan Ariya Sangha
b. Bertekad untuk melaksanakan Panca Sila Buddhis (Lima Kemoralan) yakni pantangan untuk membunuh, mencuri, berbuat asusila, berkata yang tidak benar, mengkonsumsi makanan/minuman yang melemahkan kewaspadaan
c. Bertekad melaksanakan Atthanga Sila (Delapan Sila) pada hari-hari Uposatha.
d. Berusaha menjalankan Parisuddhi Sila (Kemurnian Sila), yaitu:
– Pengendalian diri dalam tata tertib (Patimokha-samvara)
– Pengendalian enam indera (Indriya-samvara)
– Mencari nafkah hidup secara benar (Ajiva-parisuddhi)
– Pemenuhan kebutuhan hidup yang layak (Paccaya-sanissita)

2) Pahala Patipatti Puja
– Dalam Sutta Pitaka bagian Anguttara Nikaya, Dukanipata, dengan sangat jelas Sang Buddha Gotama menandaskan demikian: “Duhai para bhikkhu, ada dua cara pemujaan, yaitu Amisa Puja dan Dhamma Puja. Di antara dua cara pemujaan ini, Dhamma Puja (Patipatti Puja) adalah yang paling unggul”.
– Dengan demikian sudah selayaknya jika umat Buddha lebih menekankan pada pelaksanaan Patipatti Puja alih-alih Amisa Puja.

3) Sejarah Patipatti Puja
– Cerita tentang Bhikkhu Tissa yang bertekad berpraktek Dhamma hingga berhasil menjelang empat bulan lagi Sang Buddha parinibbana. Dalam hal tersebut Sang Buddha bersabda: “Duhai para bhikkhu, barang siapa mencintai-Ku, ia hendaknya bertindak seperti Tissa. Karena, mereka yang memuja-Ku dengan mempersembahkan berbagai bunga, wewangian, dan lain-lain, sesungguhnya belumlah bisa dikatakan memuja-Ku dengan cara yang tertinggi/terluhur. Sementara itu, seseorang yang melaksanakan Dhamma secara benar itulah yang patut dikatakan telah memuja-Ku
dengan cara tertinggi / terluhur”.
– Peristiwa yang mirip juga terjadi atas diri Bhikkhu Attadattha, sebagaimana yang dikisahkan dalam Kitab Dhammapada Atthakatha.
– Menyadari betapa penting hal tersebut untuk dipahami dengan jelas, Sang Buddha Gotama secara resmi juga menandaskan kembali kepada Ananda Thera demikian:
“Duhai Ananda, penghormatan, pengagungan, dan pemujaan dengan cara tertinggi/terluhur bukanlah dilakukan dengan memberikan persembahan bunga, wewangian, nyanyian, dan sebagainya. Akan tetapi Ananda, apabila seseorang bhikkhu, bhikkhuni, upasaka, atau upasika, berpegang teguh pada Dhamma, hidup sesuai dengan Dhamma, bertingkah laku selaras dengan Dhamma, maka orang seperti itulah yang sesungguhnya telah me-lakukan penghormatan, pengagungan, dan pemujaan dengan cara tertinggi/terluhur. Karena itu Ananda, berpegang teguhlah
pada Dhamma, hiduplah sesuai dengan Dhamma, dan bertingkah lakulah selaras dengan Dhamma. Dengan cara demikianlah engkau seharusnya melatih diri”.
– Penerapan Patipatti Puja secara telak dapat menepiskan anggapan salah masyarakat umum bahwa agama Buddha tidak lebih hanyalah suatu agama ritualistis (peribadatan/persembahyangan) belaka.

4. Makna upacara

Semua bentuk upacara agama Buddha, sebenarnya terkandung prinsip-prinsip sebagai berikut :
1) Menghormati dan merenungkan sifat-sifat luhur Sang Tiratana
2) Memperkuat keyakinan (Saddha) dengan tekad (Adhitthana)
3) Membina empat kediaman luhur (Brahma Vihara)
4) Mengulang dan merenungkan kembali khotbah-khotbah Sang Buddha
5) Melakukan Anumodana, yaitu `melimpahkan’ jasa perbuatan baik kita kepada makhluk lain

5. Manfaat upacara

Secara terperinci manfaat yang langsung didapat dari upacara adalah sebagai berikut:
1) Saddha : keyakinan dan bakti akan tumbuh berkembang
2) Brahmavihara : empat kediaman / keadaan batin yang luhur akan berkembang
3) Samvara : indera akan terkendali
4) Santutthi : puas
5) Santi : damai
6) Sukha : bahagia

6. Sikap dalam upacara

Upacara merupakan suatu manifestasi dari keyakinan dan kebaktian, oleh sebab itu sikap yang patut diperhatikan oleh umat dalam melakukan upacara adalah sebagai berikut ini:

1) Sikap menghormat, ada beberapa cara antara lain:
a. Anjali
b. Namakara
c. Padakkhina

2) Sikap membaca Paritta
a. Dilakukan dengan khidmat dan penuh perhatian
b. Dibaca secara benar sesuai dengan petunjuk-petunjuk tanda-tanda bacaannya dan harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah dijelaskan dalam Kitab Suci Tipitaka (Pali Text), seperti pada Vinaya Pitaka, II.108, di mana Sang Buddha bersabda kepada para bhikkhu tentang masalah melagukan pembacaan Dhamma, yaitu sebagai berikut: “Para bhikkhu, ada lima bahaya (keburukan) jika Dhamma diucapkan dengan suara yang dinyanyikan :
– Ia akan senang (bangga) pada dirinya sendiri sehubungan dengan suaranya yang telah didengarnya
– Orang lain akan senang mendengar suaranya tersebut (mereka akan tertarik pada lagunya tersebut, bukan pada Dhammanya)
– Umat awam akan mencemoohkan (karena musik hanya pantas untuk mereka yang masih menyukai kesenangan indera)
– Karena sibuk mengatur suaranya tersebut, maka konsentrasinya menjadi pecah (ia melupakan makna dari apa yang sedang dibacanya)
– Orang-orang yang mendengarnya bisa terjebak dalam pandangan-pandangan yang mengandung persaingan (dengan berkata: “Guru-guru dan pembimbing kami melagukannya seperti itu”, hal ini akan menyebabkan timbulnya pertentangan dan saling membanggakan diri pada umat Buddha generasi yang akan datang)

3) Sikap bersamadhi
a. Rileks, duduk bersila (bersilang kaki) dan tumpuan kedua tangan di atas pangkuan
b. Memusatkan pikiran kita kepada obyek meditasi yang biasanya cocok untuk kita gunakan, misalnya pernafasan, sifat-sifat luhur Sang Tiratana, Empat Keadaan Batin yang Luhur (Brahma Vihara), dan sebagainya.

7. Cara melakukan upacara yang benar

1) Mengerti akan makna upacara seperti yang telah diuraikan di atas
2) Setiap melakukan upacara harus benar-benar memahami apa yang dilakukan, bukan semata-mata tradisi yang mengikat yang tidak membawa kita pada pembebasan (Silabbataparamasa-samyojjana)

st1\:*{behavior:url(#ieooui) }

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}

Budha Bichiren Shoshu

Pendahuluan

pada beberapa buku yang menyatakan bahwa penyebab muncul aliran-aliran atau sekte-sekte  baru pada bidang agama, politik dan juga dalam kelompok-kelompok kecil itu hanya karena timbulnya rasa yang puas dari apa yang ia dapatkan dan juga perbedaan pandangan yang dianggap sebagai pokok-pokok sebuah ajaran.

1. Sejarah  Perkembangan Nichiren Shosu

Nichiren shoshu adalah adalah sebuah aliran agama Buddha yang berasal dari Jepang pada abad ke-13. yang dipelopori  seorang pembaharu yakni bikhu Nichiren Daishonin (1222-1282). Sekte Nichiren Shoshu ini berpusat di Taisekiji, Fujinomia, propinsi Shizuoka, Jepang. Sekte ini juga menjadikan pewaris Dharma kedua, Nikko Shonin dan pewaris Dharma ketiga, Nichimoku Shonin, sebagai pendiri sekte Nichiren Shoshu.

Buddha Nichiren Daishonin terlahir dengan nama Zennichi Maro pada tanggal 16 Februari 1222 di desa kecil Kominato, Provinsi Awa (sekarang daerah Chiba) Jepang. Sejak usia 12 tahun Zennichi Maro masuk ke kuil untuk menjadi bhikkhu. Pada usia 15 tahun dia ditahbiskan menjadi bhikkhu dengan nama Zesho-bo Renco.[1]

Agama Buddha menyebar dari India ke Tiongkok, lalu ke Korea, dan dari Korea lalu masuk ke Jepang. Berbeda dengan agama lain, agama Buddha sangat terbuka alias terus terang mengungkapkan dasar pokok pendirian sektenya, atau alasan Buddhaloginya. Dalam terminologi buddhisme dinamakan dasar sutra. Sutra adalah catatan tertulis dari ajaran sang Buddha Sakyamuni, dan jumlahnya mencapai puluhan ribu buah. Secara logika tentunya teramat sulit untuk mengetahui apa lagi memahami dan menguasai semua sutra-sutra itu. Sehingga secara aktual penganut awan Buddhisme biasanya mengacu kepada Bhikku sebagai guru dharma pribadi masing-masing. Setelah Sang Buddha Sakyamuni meninggal, Air Dharma diwariskan kepada Ananda, dan Ananda mewariskan kepada penerus-penerus berikutnya antara lain Nagarjuna, Vashubandu, Tien Tai, Dengyo dan seterusnya. Kalau dilihat dari dasar buddhalogi, Nichiren Shoshu berawal dari Saddharma Pundarika Sutra versi terjemahan dari Kumarajiva, serta Sastra Ichinen Sanzen, Hokke Mong-gu, dan Hokke Geng-gi, karya maha guru Tien Tai, maha guru Mio Lo, maha guru Dengyo.

Sastra adalah penjelasan, penguraiaan, pemaknaan dari sebuah sutra. Kumarajiva adalah seorang bhikku dari India yang menyebarkan agama Buddha ke Tiongkok. Beliau adalah salah satu peterjemah sutra dari bahasa Sanskerta ke dalam bahasa Tionghoa yang sangat terkenal dan terpercaya. Kumarajiva diyakini mampu “memindahkan” makna sutra dari bahasa Sanskerta ke bahasa Tionghoa dan karya agung beliau tersebut sampai saat ini masih ada dan masih diterbitkan dalam buku di Jepang dan Taiwan. Sebagai “bukti” hal tersebut, ketika beliau wafat dan di kremasi, lidah beliau, tidak bisa terbakar.

Di Tiongkok, Mahaguru Tien Tai menyebarluaskan Saddharma Pundarika Sutra. Dalam bahasa Tionghoa Saddharma Pundarika Sutra disebut Miao Hua Lien Hwa Cing dan dalam bahasa Jepang dibaca Myohorengekyo. Sutra Saddharma Pundarika adalah ajaran Buddha Sakyamuni mazhab Mahayana. Dari Tiongkok, Myohorengekyo atau Saddharmapundarika-sutra lalu disebarkan ke Jepang oleh Mahaguru Dengyo.

Setelah lebih dari 20 tahun mempelajari berbagai sutra dari sekte-sekte di berbagai kuil, maka beliau berkesimpulan hanya Saddharma Pundarika Sutra yang merupakan sebagai ajaran terpokok dari Buddha Sakyamuni yang bisa menyelamatkan umat manusia dari berbagai penderitaan hidup dan mati. Sejak itu beliau menyebut diri Nichiren.

Yang bertujuan untuk mengembalikan ajaran Budha kepada bentuk yang murni yang akan menjadikannya dasar bagi perbaikan masyarakat jepang, dan menolak ritualisme dan sintementalisme aliran tanah suci, melawan semua kesalahan, agresif, patriotis tetapi eksklusif.[2] Pemimpin yang memiliki karismatik. Ia mengajarkan bahwa keselamatan dapat didapat atau dicapai dengan mengucapkan dengan kata-kata suci. Beliau juga tidak ragu-ragu untuk mengeritik orang lain. Dengan mempunyai spritual yang tinggi ia dapat mengetahui tentang ramalan bahwa bangsa mongol akan menyerang kekerajaan jepang.

Nichiren mula-mula mempelajari agama Budha melalui ajaran-ajaran sekte tendai. Dari hasil studinya itu, ia menyadari bahwa agama Budha sudah terpecah-pecah dan memperlemah dengan munculnya beraneka macam sekte, dan oleh  keinginan-keinginan duniawi para pendeta agama Budha.[3] Ia beranggapan bahwa semua sekte itu telah menyimpang dari ajaran sakyamuni yang asli oleh karena itu tujuan utama Nichiren  adalah mengembalikan agama Budha kepada bentuknya yang murni yang akan dijadikan dasar perbaikan masyarakat.

Nichiren berkeyakinan bahwa ajaran Budha yang murni hanya terdapat dalam lotus sutra yang ditulis beberapa abad sesudah masa sakyumi. Kitab sutra tersebut kemudian dijadikan kitab utama yang menjadi dasar ajaran yang dikemukakannya.

Ajaran-ajaran Nichiren Shoshu

Pada usia 23 tahun, ia kembali menuju Seichoji. Pada tanggal 28 April 1253, Ia memberikan cerama mengenai hasil terpenting dari studinya selama ini kepada para Sangha dan para Petani yang telah berkumpul di Seichoji. dalam ceramanya tersebut Ia mendeglarasikan bahwa Nammyohorengekyo adalah satu-satunya ajaran dimasa mutakhir yang dapat membimbing umat manusia manuju pencapaian Budha pada masa hidupnya.

Dalam kesempatan itu ia memproklamirkan dirinya sebagai sebagai Bhikhu muda Nichiren Doisyonin pendiri agama Budha Nichiren Shoshu. Kata Nichiren terdiri atas dua kata yaitu: kata Nichi artinya matahari dan Ren artinya teratai. Jadi Nichiren adalah Teratai Matahari. Selanjutnya Ia mendapatkan gelar penghargaan dari umatnya “Daisyonin” yang artinya gelar kehormatan besar bagi kebijaksanaan dan kesuciaan.[4]

Dengan deklarasi itu Nichiren menolak faham-faham yang selama ini berkembang di Jepang dan mengecam keras sekte Budha lainnya. seperti Amidaisme, zen, Nembutsu, shigon dan ritsu. Menurutnya semua faham tersebut telah menyebabkan ketidakbahagiaan umat manusia. Nichiren ingin mengembalikan agama Budha kepada ajaran murni yang dijadikan dasar perbaikan masyarakat.

Pada bulan juli 1257 jepang dilanda bencana alam yang sangat hebat. Gempa silih berganti, kemarau yang berkepanjangan, kelaparan dan wabah penyakit yang menjangkit hampir di seluruh negeri sehingga menghasilakan banyak korban. Pemerintah kebingungan dan doa-doa yang dikirimkan dari kuil dan para Bhikhu semua tidak efektif dan tidak mampu menghentikan bencana.

Nichiren doisyonin menyiapkan bukti dokumentasi mengenai sebab-sebab terjadinya malapetaka tersebut dan kebijaksanaan untuk menyelesaikan berdasarkan faham ajaran Budha, dengan mengadakan riset. Pada tanggal 16 juli 1260, Nichiren Doisyonin mengerjakan tesis yang berjudul “Risho Ankoku Ron” yang artinya “menegakkan hukum sakti, serta menentramkan dan mensejatrahkan masyarakat” dalam tesis ini Ia menjelaskan bahwa terjadinya  malapetaka di seluruh negeri disebabkan karena bangsa Jepang menfitnah Hukum Sakti atau hukum yang benar dan percaya kepada ajaran yang salah yaitu percaya kepada Budha Amida. Kemudia pada tesisnya juga meramalkan bahwa dua bencana besar akan menumpa Jepang, yaitu invasi luar negeri dan perang saudara akan semakin meluas, namun Nichiren juga memberikan harapan bahwa jika pola kehidupan masyarkat jepang sesuai dengan hukum yang benar, maka kedamaian dan kesentosaan akan memberkahi negara.

Akan tetapi pemerintah tidak menghiraukan peringatan dan harapan itu, bahkan pada tanggal 27 agustus 1260 pemerintah bekerjasama dengan para Bhikhu Nembutsu untuk membunnuh Nichiren Doisyonin, namun Nichiren Doisyonin berhasil selamat. Pada tanggal 18 januari 1268 surat Kubilai Khan tiba di Jepang dengan tuntutan Jepang harus takluk pada kerajaan mongol dan membayar upeti atau akan diserang apabila tidak memenuhi tuntutan tersebut. Surat dari kerajaan monggol menjadikan bukti dari ramalan Nichiren Doisyonin, kemudian Ia mengirim surat kepada pemerintah agar kembali ke prinsip Risso Aknkoku Ron. Dan mendesak agar meninggalkan kepercayaannya yang sesat serta meminta untuk membuktikan ajaranya.

Pada tahun 1271 seluruh negeri dilanda kemarau yang sangat panjang, dari pemerintah meminta Ryokan dari kuil Gokuraku, seorang Bhikhu dari dari sekte Shigon-Ritsu untuk berdoa agar turun hujan, mendengar hal ini Nichiren Doisyonin menantang Ryokan bahwa beliau bersedia menjadi murid Ryokan jika ia berhasil menurunkan hujan, tapi sebaliknya apabila ia gagal maka Ryokan akan menjadi murid Nichiren Doisyonin.  namun doa yang dibacakan Ryokan tidak berhasil menurunkan hujan dan Dia tidak memenuhi janjinya.

  1. Nam-Myoho-Renge-Kyo

Nam-myoho-renge-kyo: yang berarti “aku mengabdikan diriku terhadap kebenaran falsafah hidup yang tak terkatakan kedalam dan keindahannya yang dijelaskan di dalam Sutra Teratai yang mengandung ajaran Budha yang paling luhur”. Dengan kata lain “mengabdikan dirinya terhadap semua realitas hidup kepada alam semesta. Nichiren Doisyonin berpendapat bahwa hanya dengan hanya dengan menyatuh dengan alam semesta akan mencapai kebahagiaan mutlak. Kata Nam-myoho-renge-kyo bukan hanya semata-mata bacaan akan tetapi seperti doa yang akan berdampak kepada perbuatan.

  1. Gohonzon

Dohonzon adalah sesuatu yang menjadi pusat pemujaan yang telah diajarkan Nichiren Doisyonin yang diamanatkan kepada setiap yang percaya kepada Nichiren dan ajaran-ajarannya yang benar. Sebagi suatu benda pusat pemujaan bagi semua orang dimana saja, dia mengukir Dai-Gohonzon agung. Yang kini ditempatkan di ruangan utama Sho-Hondo dari Daiseki-ji, Kuil utama Nichiren Shoshu. Siapapun yang bertawakal pada Dai-Gohonzon dan mengucapkan Nam-myoko-renge-kyo kepadanya maka dia akan merasa roh individunya akan menyatyh dengan roh semesta.

  1. Teori Kaidan

Kaidan adalah suatu tempat bagi para calon Bhikhu untuk bernadar dan menyatakan diri akan mengabdikan diri sebagai bhikhu atau Bhikhuni. Kemudian menurut pandangan Nichiren bahwa kaidan merupakan pusat untuk memuja dimana semua orang dapat menyatakan keinginan untuk berubah dan akan menjadi lebih baik juga menyucikan diri dari segala karma atau dosa dengan kekuatan Dai-Gohonzon yang maha besar.

Nichiren Shosu di Indonesia

Agama Budha Nichiren Shoshu  mulai tersebar keseluruh dunia termasuk Indinesia walaupun hanya dianut oleh beberapa orang saja itupun juga orang jepang yang bertugas di Indonesia pada tahun 1950-an dan pada tahun 1960-an jumlah anggotanya mulai meningkat, kemudian dibentuk banyak pertemuan untuk diskusi untuk mempelajari agama Budha Nichiren Shoshu. Pada tanggal 28 oktober tahun 1969, bertepatan dengan hari sumpah pemuda dibentuklah yayasan Budhis Nichiren Shoshu Indonesia. Pada pase awal perkembangan Budha Nichiren Shoshu Indonesia belum terarah dan menimbulkan kesalahpahaman dikalangan penganutnya yang berwarga Negara asli Indoensia yang berkiblat kepada Soka Gakai, diantaranya cendrung meremehkan bangsa dan Negara Indonesia,  pola pembinaan yang cenderung budaya asing, penggunaan bahasa Cina sebagai pengantar dan pertemuan-pertemuan yang menggunakan bahasa kanji. Namun kesalahpahaman tersebut dapat diselasaikan Oleh senosoenoto dan arah perjuangan jelas dan lebih tegas.

Ajaran Nichiren Shoshu Indonesia

Nichiren Shoshu Indonesia ingin membuktikan identitasnya sebagai lembaga agama yang tak terpisahkan dari bangsa Indonesia sebagai berikut:

  1. Agama Nichiren Shoshu Indonesia Bukanlah agama Jepang, akan tetapi agama Budha dari mazhab Mahayana berdasarkan Tripitaka dan yang bersifat nasionalis.
  2. Agama Nichiren Shoshu Indonesia menegaskan bahwa agama Nichiren Shoshu bukanlah agama yang bersifat eksklusif untuk golongan tertentu saja, tetapi buat semua lapisan masyrakat berdasarkan prinsip “Icien Bodai Soyo” (Gohonzon yang dianugrahkan untuk seluruh umat manusia) dan bersifat universal.
  3. Agama Nichiren Shoshu Indonesia memiliki prinsip “Esyo Funi” yang berarti manusia dan lingkungan tak dapat terpisahkan, hal ini diperaktekan dengan menggunakan bahasa Indonesia dalam pertemuan-pertemuan.

Perpecahan Budha Nichiren Shoshu di Indonesia

Sejak akhir tahun 1970 sampai pertengahan tahun 1980, NSI berkembang dan mencapai puncak kejayaannya. Sebagaimana umumnya pekembangan organisasi, bilamana telah berkembang pesat, maka pada tahap-tahap tertentu muncul masalah rule of the game, management asset atau financial, dan mekanisme pertanggungjawaban kepemimpinan organisasi. Tahun 1986 muncul usulan dan tuntutan untuk membuat AD dan ART NSI, yang memang belum ada. Draf AD ART disusun dan dibuat oleh 9 orang atas permintaan Senosoenoto, yang dikemudian hari dikenal sebagai kelompok 9.

Inisiatif kelompok sembilan ini tidak terakomodasi, mereka disingkirkan, AD ART NSI tak kunjung terwujud, mereka lalu membuat Yayasan Visistakaritra pada tgl 16 Februari 1987. Sehubungan dengan ketentuan undang-undang tentang yayasan di kemudian hari dibentuk yayasan Visistakaritra, yang dimaksudkan untuk melanjutkan kegiatan Visistakaritra sampai saat ini,dan secara subyektif berorientasi pada Sangha Nichiren Shoshu.

NSI sendiri sepeninggalan almarhum Senosoenoto, terpecah 2 karena adanya perbedaan pandangan mengenai siapa yang akan menjadi ketua umum berikutnya, antara kubu pendukung wakil ketua umum Johan Nataprawira dan kubu wakil ketua umum Keiko Senosoenoto. Dalam suatu muktamar akhirnya terpilihlah Suhadi Sendjaja dari kubu Johan Nataprawira. dan saat ini masih menjadi ketua umum NSI. Namun keberadaan ini ditentang oleh Sangha Nichiren Shoshu. Akibatnya sampai sekarang ini Suhandi Senjaya dikeluarkan dari Nichiren Shoshu dan organisasi NSI tidak diakui sebagai ormas penganut Nichiren Shoshu di Indonesia.

Kubu Keiko Senosoenoto mendirikan yayasan Pandita Sabha Buddha Dharma Indonesia (BDI), dan mengangkat anak perempuaannya, Aiko Senosoenoto sebagai ketua umum sampai sekarang ini.

BDI kemudian sekitar tahun 2000-an ,bersama Sangha Nichiren Shoshu membentuk Yayasan Pendidikan Sangha Nichiren Shoshu Indonesia yang diketuai oleh mantunya Keiko Senosoenoto, suaminya Aiko Senosoenoto, Rusdy Rukmarata.

Yayasan Sangha ini “memiliki” memiliki dua buah kuil, Myogan-ji terletak di Megamendung dan Hosei-ji teletak di Jakarta. Kedua Kuil tersebut dipimpin Kepala Kuil Bhikku dari Kuil Pusat Taiseki-ji Jepang.

Pada tahun 1992 terjadi pertikaian antara Sangha Nichiren Shoshu (di Jepang) dengan Sokagakkai/Sokagakkai internasional, dan berakibat Sokagakkai membentuk sekte tersendiri dan diberi nama Nichiren Sekai Shu. Kejadian ini juga berimbas ke Indonesia, sebagian umat Nichiren Shoshu yang ada membentuk kelompok baru bernama Sokagakkai Indonesia yang berpusat di Kemayoran Jakarta, dan menjadi penganut sekte Nichiren Sekai Shu, yang tentu saja didukung oleh Sokagakkai internasional dan Shintaro Noda


[1] A. Mukti Ali, dkk., Agama Jepang, Yogyakarta:PT.bagus Arafah,1981. hlm 34

[2] Mukti Ali, Agama-Agama di Dunia, Yokyakarta, IAIN SUNAN KALIJAGA PRESS,1988, hlm 142.

[3] Djam’annuri, agama jepang , PT Bagus Arafah. Yogyakarta 1981, hlm 34

[4] Rudi Wanandar, dkk., Wahana Kehendak Budha, Jakarta: CV. Setia Beriman, 1994, cet.1, hlm.23

Teologi Pembebasan Amerika Latin

Gustavo Gutierrez yang merupakan pelopor dan pencetus dasar pemikiran Teologi Pembebasan.  Meskipun bermunculan juga teologi yang lain, tetapi dapat dikatakan bahwa Gutierrez lah pelopor dan pencetus utamanya. Gustavo Gutierrez dilahirkan di Lima, Peru,  pada tahun 1928, sebagai seorang  messtizo, yakni seorang keturunan Indian Amerika Latin, yang dianggap sebagai kalangan orang yang tertindas di Bangsanya. Setelah Ia mendapatkan gelar Ph.D pada tahun 1959 dalam bidang teologi dan diangkat menjadi imam untuk melayani rakyat Peru. Akan tetapi setelah beberapa lama melayani Ia melihat bahwa teori yang digunakan gereja kurang bisa beradaptasi dengan kondisi rakyat Peru, sehingga memerlukan rombakan.

Menurut Gutierrez sendiri, istilah “Teologi Pembebasan” lahir di Chimbote, Peru, pada bulan Juli 1968, hanya beberapa bulan sebelum diadakannya konferensi para uskup Amerika Latin di Medellin, Colombia.  Konferensi ini kelak menjadi titik tolak munculnya kesadaran dan keterlibatan gereja atas realitas kemiskinan dan penindasan di Amerika Latin.

Teologi Pembebasan dapat dirumuskan secara singkat sebagai upaya-upaya untuk merealisasikan pengajaran Alkitab mengenai pembebasan ke dalam praksis, yang tentunya hal ini berlaku di tengah-tengah kondisi dan situasi kemiskinan dan penderitaan rakyat.

Teologi pembebasan harus sesuai dengan kondisi, budaya, dan sosialnya. Apa yang berkembang di suatu tempat, tidak dapat dipaksakan di tempat yang lain, seperti halnya teologi di Amerika Latin yang muncul dari kenyataan-kenyataan sosio politiknya yang unik, jelas tidak dapat diterapkan secara “sama persis” di tempat yang lain. Kemudian menghilangkan keotentikan iman sehingga kurang bisa diterima dikalang orang miskin. Namun para teolog menganggap bahwa dengan membantu orang miskin iman menjadi lebih sempurna sehingga tidak terjadi lagi penindasan.

Segundo Galilea tentang empat kecenderungan di dalam Teologi Pembebasan, yaitu: Pertama , menekankan ayat-ayat Alkitab tentang pembebasan dan menerapkan konsep ini ke dalam masyarakat.  Kedua, berfokus pada sejarah dan budaya Amerika Latin (khususnya pada konteks sosial) sebagai suatu titik tolak teologi mereka. Ketiga, mengkonfrontasikan perjuangan kelas, ekonomi dan ideologi yang berbeda dengan iman Kristen. Keempat, Teologi Pembebasan lebih merupakan ideologi (yaitu) perpindahan dari masyarakat ke teologi) yang ada di bawah pengaruh Marxisme.

Hasil dari muncilnya teologi pembebasan ini memberikan sumbangan positif, yaitu: Pertama, menolak prinsip tradisi Roma Katolik bahwa di luar institusi gereja tidak ada keselamatan (terlepas dari pemahaman Gutierrez yang salah tentang keselamatan). Kedua, pengakuan bahwa gereja tidak hanya merupakan hirarki tetapi secara total adalah umat Allah. Ketiga, kritik menentang gereja di masa yang lampau karena gereja ada di pihak penindas, dan menjadi kaya dan berkuasa di tengah-tengah kemiskinan. Keempat, panggilan kepada gereja untuk melakukan tindakan kasih sebagai wujud dari teologi yang berdasarkan firman Tuhan.

Tidak hanya teori tetapi harus menyatakan perwujudan iman kepada Kristus di dalam tindakan kasih kepada sesama sehingga Kristus dipermuliakan (Matus. 5:13-16; Yak. 2:14-26).  Dan orang-orang Kristen seharusnya juga tidak hanya dapat memberikan khotbah kepada orang-orang yang tertindas dan dalam kesusahan namun juga harus mengulurkan tangan kasih sebagai perwujudan yang nyata dari firman yang diberitakan.

Posisi Perempuan dalam Islam

Pendahuluan.

Allah  Swt.  berfirman  “kaum  lelaki  adalah  pemimpin  bagi perempuan”,  yakni  laki-laki  memimpin  perempuan;  dialah  pemimpin, hakim,  dan  pendidiknya  bila  perempuan  itu  menyimpang.    “Sebab,  Allah telah  melebihkan  sebagian  mereka  atas  sebagian  yang  lain”,  yakni  karena laki-laki  lebih  utama  daripada  perempuan  dan  laki-laki  lebih  baik  daripada perempuan. Karena itulah kenabian hanya dikhususkan bagi laki-laki, begitu pula kekuasaan tertinggi berdasarkan sabda Nabi  Muhammad Saw.  “Tidak akan beruntung  suatu  kaum  yang  menyerahkan  pimpinannya  kepada perempuan, “ (Hadist Riwayat Bukhari). Menurut kaum peminis ini sangat tidak adil bagi para perempuan yang berkarir apalagi yang terjun dalam bidang politik, dan menurut al-Qhardhawy penafsiran itu kurang tepat dan akan di urai dalam makalah ini.

 

1 Pengertian Politik Islam 

Politik  dalam  bahasa  Arab  disebut  al-siyasah[1],  merupakan  mashdar  dari  kata  kerjanya  saasa-yasuusu,  dan  pelakunya  disebut  saais.  Ini merupakan  kosa  kata  bahasa  Arab  asli.  Namun,  di  samping  itu    ada  pula  yang  berpendapat  bahwa  kata  tersebut  diadopsi  dari  bahasa  lain,  meskipun  dalam kenyataannya pernyataan tersebut sulit dibuktikan.

Di dalam kamus bahasa Arab, Lisanul Arab, karangan  Ibnu Manzhur yang  selama  ini  dijadikan  rujukan baku  dalam  berbahasa  Arab  dijelaskan bahwa  saasa  itu  berasal  dari  kosa  kata  sawasa  dan  bentuk  mashdarnya   al-suus  berarti  kepemimpinan.  Dengan  demikian  bisa  dikatakan  saasuhum suusan  apabila  mereka  mengangkat  seseorang  menjadi  pemimpin  atau menjadikan seseorang untuk mengatur urusan politik.

Jika  dikatakan  sawasa  fulan  amra  bani  fulan  artinya  si  Fulan  diberi

mandat untuk memimpin Bani Fulan. Menurut  al  Jauhary,  jika  dikatakan  waswasa  al-rajulu  umura  al-nas  artinya  orang  itu  ditunjuk  menjadi  pemimpin  mereka  untuk  menangani  urusan mereka.

Dengan  demikian  jelaslah  bahwa  al-siyasah  merupakan  kosa  kata  Arab  asli,  tidak  diadopsi  dari bahasa  lain.  Adapun  yang  di  maksudkannya adalah  mengatur  rakyat  atau  menangani  urusan mereka  dan  yang mendatangkan kemaslahatan bagi mereka.

Secara  terminologi  para  ahli  memberikan  definisi  politik  dengan redaksi yang berbeda-beda, secara umum antara lain Budiardjo menyatakan : “Pada umumnya dikatakan bahwa politik (politics) adalah bermacam-macam kegiatan  dalam  suatu  sistem  politik  (atau  negara)  yang  menyangkut  proses menentukan  tujuan-tujuan  dari  sistem  itu  dan  melaksanakan  tujuan-tujuan

itu”[2] .

Al-Bahnasawi  memberikan  definisinya  lebih  terfokus  pada  tujuan  syari’at  yaitu  kemaslahatan  umat  manusia  :  “politik  adalah  cara  dan  upaya  menangani  masalah-masalah  rakyat  dengan  seperangkat  undang-undang  untuk  mewujudkan  kemaslahatan  dan  mencegah  hal-hal  yang  merugikan bagi  kepentingan  umat  manusia”[3].  Oleh  sebab  itu  Islam  dan  umat  Islam memberi  perhatian  pada  masalah  politik.

Dalam  hal  ini  Ibnu  Qoyyim mengemukakan:  “Allah  Swt.    mengutus  para  Rasul-Nya    dan    menurunkan  kitab-kitab  suci-Nya,  agar  manusia  melaksanakan  keadilan,  yaitu  keadilan yang  dilakukan  sesuai  dengan  prinsip-prinsip  langit  dan  bumi”[4].  Jika keadilan  muncul  dan  terlihat  dalam  cara  apa  pun,  maka  itulah syariat  Allah dan  agama-Nya.  Bahkan,  Allah  Swt.  telah  menjelaskan  bahwa  garis-garis yang  telah  ditetapkan  itu  dimaksudkan  untuk  mewujudkan  keadilan  di kalangan  hamba-hamba-Nya    dan  agar  manusia  berbuat  adil  di  muka  bumi.

Cara  apa  pun  yang  ditempuh  jika  sesuai  dengan  garis-garis  yang  telah  dijelaskan untuk mewujudkan keadilan adalah bagian dari  agama dan tidak bertentangan dengannya. Jadi, tidak dapat dikatakan bahwa politik yang adil itu  bertentangan  dengan  apa  yang  dikatakan  oleh  Syari’ah  melainkan  ia sesuai  dengan  apa  yang  dibawa  oleh  Syari’ah  dan  bahkan  bagian  integral

dari padanya.

Sejalan  dengan  pernyataan  di  atas,  Imam  Syafi’i  memberi  definisi bahwa politik adalah hal-hal yang bersesuaian dengan syara’. Pengertian ini dijelaskan  oleh  Ibnu  Agil  bahwa  politik  adalah  hal-hal  praktis  yang  lebih mendekati  kemaslahatan  bagi  manusia  dan  lebih  jauh  dari  kerusakan meskipun  tidak  digariskan  oleh  Rasulullah  Saw.  atau  dibawa  oleh  wahyu Allah  Swt.  Oleh  karenanya  politik  dalam  pengertian  menangani permasalahan-permasalahan komunitas telah diisyaratkan dan diperintahkan oleh  Allah,  bahkan  telah  menjadi  bagian  tugas  dari  kerasulan,  sebagaimana

firman Allah dalam Q.S. Al-Hadid (57) : 25 :

 “Sesungguhnya  Kami  telah  mengutus  Rasul-rasul  Kami  dengan membawa   bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka  al-Kitab  dan      neraca    (keadilan)    supaya      manusia    dapat  melaksanakan keadilan.”

2. Prinsip Politik Islam

Dalam  menata  kehidupan  sosial  politik  pada  masyarakat  Madinah,  Rasulullah  Saw.  melakukan  pendekatannya  melalui  dua  jalur.  Pertama  ; Menata intern kehidupan kaum  muslimin, dengan mempersaudarakan kaum Muhajirin  dan  Anshar  secara  efektif  dengan  ikatan  keimanan.  Kedua;  Nabi mempersatukan  antara  kaum  muslimin  dan  kaum  Yahudi  bersama  sekutu-sekutunya  melalui perjanjian  tertulis  yang  terkenal  dengan  “Piagam Madinah”, suatu perjanjian yang menetapkan persamaan hak dan kewajiban semua komunitas dalam kehidupan sosial dan politik.

Di  dalam  Shahih  Bukhari,  Muslim,  Abu  Daud,  dan  Ahmad  ibn Hanbal,  Piagam  Madinah  ini  dikenal  dengan  sebutan  “Shahifah,  Al-Kitab atau  Watsiqah”,  kemudian  para  peneliti  mengartikannya  dengan  perjanjian, undang-undang,  konstitusi  atau  piagam,  yang  isinya  menurut  Suyuthi Pulungan[5] terdiri dari 47 pasal, yang secara garis besarnya  memuat prinsip-prinsip  ketatanegaraan,  di  antaranya :  prinsip    umat  yang  satu,  prinsip persatuan  dan  persaudaraan,  prinsip  persamaan,  prinsip  kebebasan,  prinsip tolong  menolong  dan  membela  yang  teraniaya,  prinsip  hidup  bertetangga, prinsip  keadilan,  prinsip  musyawarah,  prinsip  pelaksanaan  hukum,  prinsip kebebasan  beragama, prinsip  hubungan  antar  bangsa/internasional,  prinsip pertahanan  dan  perdamaian,  prinsip  amar ma’ruf  dan  nahi  munkar,  prinsip kepemimpinan serta prinsip ketakwaan dan disiplin.

Sedangkan    Salim  Ali  al-Bahnasawi  memerincinya  lebih  detail  lagi, yang  menurutnya  Piagam  Madinah  itu  memuat  69  pasal  atau  butir[6].  Pasal-pasal tersebut apabila diklasifikasikan terbagi kepada empat bagian;  bagian

pertama  menyangkut  hak  dan  kewajiban  kaum  muslimin,  bagian  kedua menyangkut  hak  dan  kewajiban  non  muslim,  bagian ketiga  tanggung  jawab bersama  antara  kaum  muslim  dan  non  muslim  dalam  mempertahankan negara,  dan  bagian  keempat  menyangkut  persamaan  hak  dan  kewajiban antara kaum muslim dan non muslim dalam hal bela negara.

Adapun  ayat-ayat  al-Qur’an  yang  berkaitan  dengan  aspek  kehidupan politik  cukup  banyak,  namun  yang  menyangkut  prinsip-prinsip  penggunaankekuasaan politik secara ekplisit terdapat pada dua ayat al-Qur’an Surast An-Nisa (4) : 58-59 sebagai berikut :

“(58)  Sesungguhnya  Allah  menyuruh  kalian  menyampaikan  amanat (titipan)  kepada  (mereka)  yang  berhak  menerimanya,  dan  (menyuruh kalian)  apabila  menetapkan  hukum  diantara  manusia  agar  kalian menetapkannya  dengan  adil.  Sesungguhnya  Allah  memberikan pengajaran  yang  sebaik-baiknya  kepada  kalian.  Sesungguhnya  Allah Maha  Mendengar  dan  Maha  Melihat.  (59)  Wahai  orang-orang  yang beriman  taatilah  Allah  dan  taatilah  Rasul-Nya  dan  pemimpin  kalian. Kemudian  jika  kalian  berlainan  pendapat  tentang  sesuatu,  maka kembalikanlah  kepada  Allah  dan  Rasul,  jika  kalian  benar-benar percaya  kepada  Allah  dan  Hari  Kemudian,  sikap  demikian  itu  lebih utama (bagi kalian) dan akan lebih baik kesudahannya”

Adanya  kepemimpinan  umat  adalah  suatu  kewajiban  dan  merupakan bagian terpenting dari ajaran agama, bahkan agama tidak akan berdiri tanpa adanya  kepemimpinan  umat  (wilayat  al-amr).  Pemikiran  Ibn  Taimiyah  ini sejalan dengan salah satu prinsip yang menyatakan bahwa politik dan hukum harus bekerja sama dan saling menguatkan melalui ungkapan “Hukum tanpa kekuasaan adalah angan-angan, kekuasaan tanpa hukum adalah kelaliman”[7]. Ibn  Taimiyah  lebih  menegaskan  lagi  bahwa  “penguasa  adalah  bayang-bayang Allah di muka bumi”[8].  Rasyid  Ridha  berpendapat  bahwa  kandungan  ayat  tersebut  sudah mencukupi  untuk  menjalankan  pemerintahan  meskipun  tidak  ada  lagi  ayat lain yang turun berkenaan dengan kehidupan politik.[9]

3. Sketsa Tentang Yusuf Al-Qardhawi

Dr.  Yusuf  al-Qardhawi  nama  lengkapnya  adalah  Yusuf  bin  Abdullah al-Qardhawi dilahirkan pada tahun 1926 M di sebuah desa beranama Shafth Turab, daerah pertanian yang subur di wilayah propinsi Barat Mesir.  Beliau dibesarkan  pada  keluarga  dan  lingkungan  yang  agamis  dan  berperadaban.  Mata pencaharian penduduk pada umumnya adalah bercocok tanam. Pada  usia  tujuh  tahun  oleh  pamannya  disekolahkan  pada  Madrasah Ilzamiyyah.  Beliau  tercatat  sebagai  murid  yang  berprestasi  tinggi,  sehingga sebelum usianya genap sepuluh tahun telah berhasil menghafal al-Qur’an al-Karim. Setelah  selesai  dari  Madrasah  Ilzamiyah,  beliau  melanjutkan sekolahnya  ke  Madrasah  Ibtidaiyyah  “Thantha”  dan  menyelesaikannya hanya  dalam  kurun  waktu  empat  tahun.  Kemudian  dilanjutkan  ke Tsanawiyah dan dapat diselesaikan sebelum waktunya.

Setelah  beranjak  dewasa,  Yusuf  al-Qardhawi  pergi  ke  Kairo  untuk melanjutkan  studinya  di  Perguruan  Tinggi,  Universitas  al-Azhar  pada Fakultas  Ushuluddin.  Pada  tahun  1952  beliau  memperoleh  ijazah  S-1, kemudian  melanjutkan  S-2  jurusan  bahasa  Arab  dengan  konsentrasi  pada

pendidikan dan pengajaran serta berhasil memperoleh ijazah S-2. Kemudian beliau  masuk  ke  Lembaga  Kajian  dan  Pengembangan  Bahasa  Arab Internasional, dan berhasil memperoleh gelar Diploma pada Jurusan Bahasa dan  Adab.  Pada  tahun  yang  sama, beliau  masuk  pendidikan  tinggi  (S-3) qismud dirasah bidang al-Qur’an dan al-Sunnah di Fakultas Ushuluddin dan berhasil  menyelesaikannya  pada  tahun  1960  M.  Dari  sana  beliau mempersiapkan  disertasinya  tentang  zakat  untuk  memperoleh  gelar  Doktor.

Disertasi tersebut seharusnya diselesaikan dua tahun. Namun, karena situasi yang dialami gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir pada saat itu, beliau tidak berhasil  menyelesaikan  target  tersebut  dan  baru  berhasil  menyelesaikannya pada tahun 1973 M.

Pada  tahun  1961,  Al-Qardhawi  ditugaskan  ke  negara  Qatar  sebagai pemimpin  Lembaga  Pendidikan  Agama  Tingkat  Menengah.  Pada  tahun 1973,  didirikanlah  Fakultas  Tarbiyah  yang  merupakan  cikal  bakal Universitas  Qatar.  Kemudian  beliau  dipindahkan  ke  sana  untuk  mendirikan sekaligus memimpin bagian Dirasah Islamiyah (Islamic Studies). Pada tahun 1977, ia merintis dan mendirikan Fakultas Syari’ah dan Dirasah Islamiyah di Universitas Qatar.

Yusuf  al-Qardhawi    memiliki  karya  tulis  yang  jumlahnya  lebih  dari tujuh puluh buah. Jumlah tersebut sangat besar jika dilihat dari waktu luang yang dimilikinya untuk menulis.  Al-Qardhawi,  di  sepanjang  hidupnya,  tidak  pernah  kenal  lelah  dan tidak pula merasa jenuh untuk menuangkan buah pikirannya melalui tulisan-tulisannya  yang  sangat  berharga  bagi  kaum  muslimin.  Di  samping  sibuk menulis,  juga  beliau  cukup  disibukkan  dengan  mengajar  di  berbagai perguruan  tinggi,  di  samping  menyampaikan  buah  pikirannya  dalam seminar, diskusi, wawancara, dialog, dan berbagai ceramah umum. Perlu  digarisbawahi  bahwa  sejak  awal  pemikiran-pemikiran  al-Qardhawi  terkenal  dengan  sikapnya  yang  moderat  (sikap  pertengahan).

Beliau  sendiri  menyatakannya  secara  tegas  :  “Segala  puji  bagi  Allah  Swt. yang  telah  memberikan  karunia  kepada  saya  sejak  awal  kehidupan.  Pemikiran dan dakwah saya untuk membangun jalan tengah yang didasarkan pada teori  keseimbangan  (al-tawasuth)    yang  komprehensif, jauh  dari sikap ifrath  (pengagungan  yang  berlebihan),  dan  tafrith  (sikap  meremehkan  yang berlebihan)1[10].

Pemikiran  ketatanegaraan  Al-Qardhawi  hampir  mirip  dengan  para pemimpin  terkemuka  gerakan  Ikhwanul  Muslimin,  karena  ia  merupakan salah seorang pengikut Jama’ah Ikhwanul Muslimin yang terkemuka. Beliau memiliki  aktivitas  besar  dalam  penyebaran  dakwah  jama’ah  tersebut  di

dalam dan di luar Mesir, khususnya ketika beliau berada di Qatar. Di saat itu al-Qardhawi  mempunyai  aktivitas  yang  besar  dan  pengaruh  yang  luas  di masyarakat Qatar, baik di kalangan tua maupun di kalangan remaja. Kegiatan  terakhir  al-Qardhawi  adalah  aktif  di  dunia  internet  dengan tujuan  menyebarkan  tulisan  yang  diberi  nama  “Lembaga  Dr.  Yusuf    al-Qardhawi.”  Semua  itu menunjukkan  tingkat  ketekunan,  kesabaran,  dan semangat  al-Qardhawi  dalam  menyebarluaskan  pemikirannya.  Namun aktifitasnya  ini  tidak  luput  dari  cercaan  dan  makian,  karena  dianggap  telah menyimpang dari ajaran salaf al-shalih.

4. Posisi Wanita Dalam Pandangan Politik Al-Qardhawi

1. Syarat-Syarat Menjadi Kepala Negara

Taqiyuddin al-Nabhani menegaskan, seorang kepala negara (khalifah)  dapat  dibai’at  apabila  memenuhi  tujuh  syarat  yaitu[11]  :  muslim,  laki-laki, baligh, berakal, adil, merdeka, dan mampu melaksanakan amanat khilafah.

Pertama,  muslim,  karena  secara  mutlak  kaum  muslimin  tidak diperbolehkan mengangkatpimpinannya dari kalangan kaum kafir. Larangan tersebut  banyak  dijumpai  dalam  ayat-ayat  al-Qur’an,  antara  lain  pada  Surat An-Nisa: 144, 141, Ali mran : 28, 118, dan al-Mumtahanah : 1. “Hai  orang-orang  yang  beriman,  janganlah  kalian  mengambil  orang-orang  kafir  menjadi  wali dengan  meninggalkan  orang-orang  mu’min. Inginkah  kalian  mengadakan  alasan  yang  nyata  bagi  Allah  (untuk menyiksamu)?” An-Nisa : 144

Kedua,  laki-laki.  Jadi,  wanita  tidak  bisa  menjadi  khalifah,  imam,  ulil amri,  atau  kepala  negara.  Adapun  alasannya  adalah  hadis  Nabi  yang bersumber dari Abi Bakrah, ketika sampai berita kepada Nabi bahwa bangsa Persia telah mengangkat putri Kisra sebagai ratu, maka beliau bersabda : “Tidak  akan  pernah  beruntung  suatu  kaum  yang  menyerahkan kekuasaan (pemerintahan) mereka kepada seorang wanita”.  Berdasarkan  hadis  tersebut  mayoritas  fuqaha  menetapkan  bahwa mengangkat seorang wanita sebagai penguasa adalah haram.

Ketiga, balig. Menurut syara’, orang yang belum balig tidak dibebani hukum.  Cukup  banyak  hadis-hadis  shahih  yang  menegaskan  bahwa  orang yang  belum  balig  seperti  halnya  anak  kecil  terbebaskan  dari  syara’,  seperti hadis yang diriwayatkan Abu Daud yang bersumber dari Ali bin Abi Thalib r.a. bahwasannya Rasulullah Saw. telah bersabda :  “Telah diangkat pena (tidak dibebankan hukum) atas tiga orang : anak kecil hingga mencapai akil balig, orang yang tidur hingga bangun, dan orang gila sampai akalnya sehat kembali”.

Keempat, berakal.  Jadi orang  yang  hilang  akalnya  tidak  boleh diangkat menjadi kepala negara, sebagaimana hadis tersebut di atas.

Kelima, adil,  yaitu  orang  yang  konsisten  dalam  menjalankan agamanya.  Orang  fasiq  tidak  boleh  diangkat  menjadi  pemimpin.  Untuk menjadi seorang saksi  saja  Allah  Swt. mensyaratkan adil,  maka  apalagi untuk  menjadi  seorang  kepala  negara.  Firman Allah pada Surat At Thalaq (65) : 2

“Apabila  mereka  telah  mendekati  akhir  iddahnya,  maka  rujukilah mereka  dengan  baik  atau  lepaskanlah  mereka  dengan  baik,  dan persaksikanlah  dengan  dua  saksi  yang    adil  di  antara  kamu  dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah semata”.

Keenam,  merdeka,  artinya  seorang  hamba  sahaya  tidak  sah  untuk  dijadikan  seorang  kepala negara,  karena  dia  milik  tuannya  sehingga  tidak memiliki wewenang untuk mengatur, bahkan terhadap dirinya sendiri.

Ketujuh,  mampu  melaksanakan  amanat  khilafah,  sebab  ini  termasuk hal  yang  dituntut  dalam  bai’at.  Jadi, bai’at itu tidak  sah  kepada  seseorang yang tidak sanggup mengemban amanat umat.

Al-Qardhawi  menambahkan  penegasan  bahwa  Islam  memberikan beban  tanggung  jawab  politik  kepada  setiap  muslim,  agar  hidup  berada dalam  suatu  daulah  (negara)  yang  dipimpin  oleh  pemimpin  muslim  yang berhukum kepada Kitab Allah.

Ketujuh  syarat  yang  dikemukakan  Taqiyuddin  al-Nabhani  di  atas, hampir  seluruh  ulama  salaf  dan  khalaf  menyepakatinya.  Akan  tetapi  al-Qardhawi  memandang,  kepemimpinan  seorang  kepala  negara  di  masa sekarang  ini  kekuasaannya  tidak  sama  dengan  seorang  ratu  atau  khalifah  di

masa  lalu  yang  identik  dengan  seorang  imam  dalam  Shalat.  Pemikiran  al-Qardhawi selengkapnya dapat dilihat pada pembahasan berikut.

2. Wanita  Sebagai Dewan Perwakilan Rakyat

Yusuf al-Qardhawi menyejajarkan kedudukan wanita dengan laki-laki dalam  peranannya  sebagai  anggota  Dewan  Perwakilan  Rakyat  (DPR) ataupun  sebagai  anggota  Majelis  Permusyawaratan  Rakyat  (MPR), sepenuhnya  memiliki  hak  memilih  dan  hak  dipilih.  Ia  beralasan  bahwa wanita  dewasa  adalah    manusia  mukallaf  (diberi  tanggung  jawab)  secara utuh,  yang  dituntut  untuk  beribadat  kepada  Allah,  menegakkan  agama, melaksanakan  kewajiban,  menjauhi  larangan-Nya,  berdakwah  untuk agamaNya,  dan  berkewajiban  melakukan  amar  ma’ruf  dan  nahyi  munkar

seperti halnya kaum pria[12].

Beliau  menegaskan  bahwa  seluruh  seruan  dan  himbauan  Allah  di dalam  al-Qur’an  mencakup kaum  wanita,  kecuali  dalam  hal-hal  tertentu yang    dikhususkan  untuk  kaum  pria.  Manakala  Allah berfirman  :    “Hai manusia,”  atau  “hai  orang-orang  yang  beriman  “,  maka  menurut  salaf  al-shalihbahwa itu termasuk kaum wanita. Pendapat ini dapat diterima semua pihak tanpa diragukan. Dalam  suatu  riwayat  disebutkan  ketika  istri  Nabi  Saw.  Ummu Salamah, mendengar seruannya: “Hai manusia”,  padahal saat itu dia sedang sibuk  mengerjakan  sesuatu,  dia  tinggalkan  pekerjaannya  dan  segera  memenuhi himbauan itu. Akibatnya, sebagian orang heran atas kesigapannya memenuhi  himbauan  Rasulullah.  Ketika  ditanya  orang,  dia  menjawab dengan tegas : “saya termasuk manusia”[13].

Kesejajaran  wanita  dan  pria  dalam  hal  menyuarakan  haknya  di lembaga  DPR  ataupun MPR  adalah  sesuatu  yang  sangat  biasa  dan  wajar, bahkan  dalam  hal-hal  tertentu  yang  menyangkut  persoalan  wanita, merekalah yang lebih dominan dalam membahas dan memecahkannya.  Dalam memahami ayat al-Qur’an pada Surat An-Nisa (4) : 34 “Kaum  laki-laki  itu  adalah  pemimpin  bagi  kaum  wanita,  oleh  karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka ( laki-laki) telah menafkahkan sebagian harta mereka….”

Al-Qardhawi menegaskan, yang dimaksud dalam ayat tersebut bahwa kaum  lelaki  adalah  pemimpin  kaum  wanita,  berkaitan  dengan  kehidupan suami-isteri, bukan dalam urusan pemerintahan. Menurutnya, Firman Allah yang mengatakan “Karena mereka (lelaki) telah  menafkahkan  sebagian  dari  harta  mereka”  menunjukkan  kepada  kita bahwa  maksud  kepemimpinan  di  sini  adalah  kepemimpinan  atas  keluarga, yaitu  kelebihan  atau  tingkatan  yang  diberikan  Allah  kepada  mereka  seperti yang tercantum dalam firman-Nya : “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf, akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan ….” (al-Baqarah ayat 228). Meskipun laki-laki itu berperan sebagai pemimpin dalam keluarga, ini

tidak  berarti    segala  sesuatu  secara  mutlak  berada  di  tangannya,  sehingga sang  isteri tidak  memiliki  hak  koreksi  terhadap  dirinya,  karena  secara tegas al-Qur’an  mengisyaratkan  harus  adanya  musyawarah  di  antara  keduanya. Pendapat dan koreksian isterinya harus diperhatikan dalam berbagai masalah yang  berkaitan  dengan  keluarga,  umpamanya  yang  diisyaratkan  al-Qur’an ketika  menyinggung  masalah  menyapih  anak  :  “Apabila  keduanya  ingin menyapih  (sebelum  dua  tahun)  dengan  kerelaan  keduanya  dan permusyawaratan,  maka  tidak  ada  dosa  atas  keduanya”  Al-Baqarah  (2)  : 223.

Secara  tegas  dalam  sebuah  hadits  yang  diriwayatkan  Imam  Ahmad, suami  diperintahkan  agar  bermusyawarah  dengan  kaum  wanita  dalam  hal perkawinan putra putri mereka :  “Bermusyawarahlah  dengan  kaum  wanita  dalam  masalah (perkawinan) putri-putri mereka”. Lebih  jauh  al-Qardhawi  menegaskan,  tidak  ada  satu  dalil  pun  dari syara’ yang menghalangi keanggotaan wanita di DPR atau MPR, karena pada dasarnya  segala  persoalan  (keduniaan)  itu  dibolehkan,  kecuali  apabila  ada teks tegas yang melarangnya.

3. Wanita Sebagai Kepala Negara

Di  kalangan  fuqaha  hampir  sepakat  bahwa  seorang  wanita  tidak diperbolehkan  atau  dilarang  menjadi  seorang  kepala  negara,  karena  identik dengan  seorang  imam  atau  khalifah.  Pelarangan  wanita  untuk  menjadi kepala negara adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Bakrah;  Nabi  Saw.  bersabda  ketika  beliau  mendengar  bahwa  orang-orang Persia mengangkat putri Kisra setelah dia wafat sebagai pemimpin. “Tidak  akan  pernah  beruntung  suatu  kaum  yang  menyerahkan kekuasaan (pemerintahan) mereka kepada seorang wanita”.

Berkenaan  dengan  hadis  tersebut,  Yusuf  al-Qardhawi  mengo-mentarinya dengan panjang lebardalam kitabnya, Min Fiqh al-Daulah fi al-Islam, di antaranya sebagai berikut[14]:

Pertama: Apakah hadits ini dipahami berdasarkan keumuman lafalnya atau berdasarkan sebab munculnya ? Nampaknya,  di  sini  Rasulullah  ingin  memberitahukan  ketidak-suksesan  bangsa  Persia,  yang  dipaksa  menerima  sistem  kerajaan  turun temurun,  kemudian  diperintah  oleh  putri  kaisar,  walaupun  di  kalangan mereka  banyak  terdapat  orang  yang  lebih  mampu  dan  pantas.  Ini menunjukkan bahwa sebab turunnya ayat dan sebab munculnya hadits harus diperhatikan  dalam  memahami  teks,  sementara  keumuman  lafal  tidak  dapat dijadikan sebagai kaedah dan postulat.

Apabila  hadits  itu  hanya  dipahami  menurut  umumnya  semata,  tentu berlawanan  dengan  lahiriyah  ayat  al-Qur’an  yang  menceritakan  kisah seorang  wanita  (Ratu  Balqis)  yang  memimpin  kaumnya  dengan kepemimpinan yang bijaksana dan adil, serta selalu bertindak baik dan tepat. Dia berhasil selamat dari peperangan yang merugikan, menghancurkan harta benda  dan  tentara,  dan  pada  akhirnya  tidak  mendatangkan  bahaya  apa-apa.

Pemerintahannya berdasarkan musyawarah: “Saya tidak pernah memutuskan perkara    sebelum  kamu  berada  dalam  majlisku.”  Namun  demikian,  mereka menyerahkan persoalan kepadanya. Firman Allah Surat An-Naml (27) : 33 “Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan  (juga)  memiliki  keberanian  yang  sangat  (dalam  peperangan), dan keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan.”  Demikianlah kisah ratu Saba’ dengan Nabi Sulaiman yang diceritakan oleh  al-Qur’an  dalam  surat  al-Naml    (27)  :  44    yang  berakhir  dengan ucapannya: “Dikatakan  kepadanya  masuklah  ke  dalam  istana,  maka  tetkala  dia melihat  lantai  istana  itu  dikiranya  kolam  air  yang  besar,  dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca. Berkatalah Balqis: Ya Tuhanku sesungguhnya  aku  telah  berbuat  zalim  terhadap  diriku  dan  aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.”

Kedua  :  Para  ulama  sudah  sepakat  melarang  wanita  mengemban kepemimpinan  tertinggi  atau  Imanah    ‘Uzhma.  Inilah  yang  dimaksud  oleh hadis di atas, sebagaimana yang bisa dilihat dari sebab munculnya hadits itu, bahkan  lafalnya  sendiri  menegaskan  hal  tersebut,  “mereka  mengangkat wanita sebagai pemimpin”, dalam riwayat lain disebutkan,  “wanitalah yang memimpin  mereka”.    Jadi,  yang  dimaksud  oleh  hadits  ini  adalah  larangan bagi  wanita  menjadi  khalifah,  pemimpin  umum  kaum  muslimin.  Sistemkepemimpinan  ini  tidak  terdapat  sekarang,  sejak  benteng  khilafah  terakhir dihancurkan  oleh  Ataturk  tahun  1924.  Sebagian  ulama  mungkin  saja menganalogikan  dengan  kasus  ini,  bila  wanita  menjadi  seorang  kepala negara  yang  mempunyai  pengaruh  dan  berkuasa  penuh  terhadap  kaumnya. Dengan  demikian,  mereka  telah  mengangkat  wanita  itu  sebagai pemimpinnya.  Artinya,  wanita  tersebut  menguasai  semua  persoalan  mereka dan berbuat sekehendaknya.

Ketiga  :  Masyarakat  kontemporer  di  bawah  sistem  demokrasi,  ketika mengangkat wanita sebagai menteri atau jabatan lainnya, tidak berarti bahwa masyarakat  itu  menguasakan  seorang  wanita  menjadi  pemimpin  dan menyerahkan segala persoalan kepadanya. Kita  dapat  mengerti  bahwa  pemerintahan  Margaret  Thatcher  di Inggris,  Indira  Gandhi  di  India,  atau    Golda  Meir  di  tanah  pendudukan Palestina,  bila  diamati  secara  mendalam,  bukan  pemerintahan  seorang wanita  atas  suatu  bangsa,  melainkan  pemerintahan  berbagai  lembaga  dan sistem,  walaupun  puncak  kepemimpinannya  berada  pada  seorang  wanita. Yang memerintah sebenarnya adalah kabinet secara kolektif,  bukan perdana menteri.

Kesimpulan

1.  Yusuf  al-Qardhawi  memandang  kedudukan  wanita  dalam  sistem  politik sama  halnya  dengan  kaum  pria.  Beliau  menyejajarkan  kaum  wanita dengan kaum pria, karena dalam masalah politik keduanya memiliki hak yang sama, memiliki hak penuh untuk memilih dan hak dipilih. Menurut al-Qardhawi,  wanita  dewasa  adalah  manusia  mukallaf  (diberi  tanggung jawab)  secara  utuh,  yang  dituntut  untuk  beribadah  kepada  Allah, menegakkan  agama,  melaksanakan  kewajiban,  menjauhi  larangan-Nya, berdakwah untuk agama-Nya, dan berkewajiban  melakukan amar ma’ruf

nahi  munkar,  seperti  halnya  kaum  pria,  demikian  pula  dalam  hal  yang bertalian dengan masalah kenegaraan.

2.  Fatwa  al-Qardhawi  tentang  status  wanita  dalam  sistem  politik  Islam, dilihat sepintas nampaknya bertentangan dengan persyaratan-persyaratan yang  ditetapkan  ulama  salaf  dan  khalaf.  Mereka  menetapkan,  salah  satu syarat  untuk  menjadi  seorang  imam,  khalifah,  atau  amirul  mu’minin adalah al-rijal (seorang pria), artinya seorang wanita tidak boleh menjadi imam, khalifah, atau amirul mu’minin.

Sikap  al-Qardhawi  terhadap  syarat  yang  telah  ditetapkan  para  ulama tersebut  sedikit-pun  tidak  membantahnya,  akan  tetapi  manhaj (paradigma)  yang  dikembangkannya  selalu  dikaitkan  dengan  waqi’iyah (peristiwa  yang  terjadi)  pada  saat  ini,  karena  ayat-ayat  al-Qur’an  yang bertalian  dengan  hukum  diturunkan  selalu  sesuai  dan  sejalan  dengan peristiwa yang terjadi pada masa itu.

Al-Qardhawi  memandang  bahwa  masalah  presiden,  Dewan  Perwakilan Rakyat (DPR), dan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sama sekali tidak  identik  dengan  kepemimpinan  seorang  khalifah  atau  amirul mu’minin  yang  bersifat  individu.  Sedangkan  kepemimpinan  presiden, DPR ataupun MPR yang berkembang pada saat ini bersifat kolektif tidak bersifat individu.


[1]  Yusuf  al-Qardhawy.  Siyasah  al-Syar’iyah.  Maktabah  Wahbah,  Cairo  Mesir,  1419  H/ 1998.M, hlm. 33-34.

[2]  Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, Gramedia, Jakarta, 1982, hlm. 8.

[3] Salim  Ali  al-Bahnasawi,  Al-Syari’ah  al-Muftara  Alaliha,  Terj.Mustolah  Maufur,  Wawasan Sistem Politik Islam,  Pustaka al-Kautsar, Jakarta, 1995, hlm.23.

[4] Salim  Ali  al-Bahnasawi,  Al-Syari’ah  al-Muftara  Alaliha,  Terj.Mustolah  Maufur,  Wawasan Sistem Politik Islam,  Pustaka al-Kautsar, Jakarta, 1995, hlm.23.

[5] J.Suyuthi  Pulungan,  Prinsip-prinsip  Pemerintahan  Dalam  Piagam  Madinah  Ditinjau  dari  Pandangan  AL-Qur’an.,  Raja  Grafindo  Persada,  Jakarta,  1994, Salim Ali al-Bahnasawi, Of.cit, hlm.280-285.hlm.92.

[6] Salim Ali al-Bahnasawi, Of.cit, hlm.280-285.

[7] Moh.Mahfud.MD,  Politik  Hukum  di  Indonesia,  Cetakan  Pertama,  PT.Pustaka LP3S, Jakarta, 1999, hlm.13.

[8] Juhaya  S.Praja,  Filsafat  Hukum  Islam,  LPPM  Universitas  Islam  Bandung, Bandung, 1995,  hlm.93

[9] Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir al-Qur’an al-Hakim, Dar al-Fikr, Beirut-Lubnan, t.th, hlm.168.

[10] Yusuf al-Qardhawi, Fatawa Mu’ashirah, Dar al-Fikr al-Arabiyah, Mesir, 1990.

[11] Taqiyuddin al-Nabhanmi, Sistem Pemerintahan Islam,A-Izzah khazanah tsaqafah Islam, Bangil, 1996, hlm 67-70.

[12] Yusuf al-Qardhawi, Min Fiqh al-Daulah fi al-Islam, Op. cit,  hlm. 207.

[13] Ibid. hlm. 209-212.

[14] Ibid, hlm. 209-212.