Teologi Pembebasan Amerika Latin

Gustavo Gutierrez yang merupakan pelopor dan pencetus dasar pemikiran Teologi Pembebasan.  Meskipun bermunculan juga teologi yang lain, tetapi dapat dikatakan bahwa Gutierrez lah pelopor dan pencetus utamanya. Gustavo Gutierrez dilahirkan di Lima, Peru,  pada tahun 1928, sebagai seorang  messtizo, yakni seorang keturunan Indian Amerika Latin, yang dianggap sebagai kalangan orang yang tertindas di Bangsanya. Setelah Ia mendapatkan gelar Ph.D pada tahun 1959 dalam bidang teologi dan diangkat menjadi imam untuk melayani rakyat Peru. Akan tetapi setelah beberapa lama melayani Ia melihat bahwa teori yang digunakan gereja kurang bisa beradaptasi dengan kondisi rakyat Peru, sehingga memerlukan rombakan.

Menurut Gutierrez sendiri, istilah “Teologi Pembebasan” lahir di Chimbote, Peru, pada bulan Juli 1968, hanya beberapa bulan sebelum diadakannya konferensi para uskup Amerika Latin di Medellin, Colombia.  Konferensi ini kelak menjadi titik tolak munculnya kesadaran dan keterlibatan gereja atas realitas kemiskinan dan penindasan di Amerika Latin.

Teologi Pembebasan dapat dirumuskan secara singkat sebagai upaya-upaya untuk merealisasikan pengajaran Alkitab mengenai pembebasan ke dalam praksis, yang tentunya hal ini berlaku di tengah-tengah kondisi dan situasi kemiskinan dan penderitaan rakyat.

Teologi pembebasan harus sesuai dengan kondisi, budaya, dan sosialnya. Apa yang berkembang di suatu tempat, tidak dapat dipaksakan di tempat yang lain, seperti halnya teologi di Amerika Latin yang muncul dari kenyataan-kenyataan sosio politiknya yang unik, jelas tidak dapat diterapkan secara “sama persis” di tempat yang lain. Kemudian menghilangkan keotentikan iman sehingga kurang bisa diterima dikalang orang miskin. Namun para teolog menganggap bahwa dengan membantu orang miskin iman menjadi lebih sempurna sehingga tidak terjadi lagi penindasan.

Segundo Galilea tentang empat kecenderungan di dalam Teologi Pembebasan, yaitu: Pertama , menekankan ayat-ayat Alkitab tentang pembebasan dan menerapkan konsep ini ke dalam masyarakat.  Kedua, berfokus pada sejarah dan budaya Amerika Latin (khususnya pada konteks sosial) sebagai suatu titik tolak teologi mereka. Ketiga, mengkonfrontasikan perjuangan kelas, ekonomi dan ideologi yang berbeda dengan iman Kristen. Keempat, Teologi Pembebasan lebih merupakan ideologi (yaitu) perpindahan dari masyarakat ke teologi) yang ada di bawah pengaruh Marxisme.

Hasil dari muncilnya teologi pembebasan ini memberikan sumbangan positif, yaitu: Pertama, menolak prinsip tradisi Roma Katolik bahwa di luar institusi gereja tidak ada keselamatan (terlepas dari pemahaman Gutierrez yang salah tentang keselamatan). Kedua, pengakuan bahwa gereja tidak hanya merupakan hirarki tetapi secara total adalah umat Allah. Ketiga, kritik menentang gereja di masa yang lampau karena gereja ada di pihak penindas, dan menjadi kaya dan berkuasa di tengah-tengah kemiskinan. Keempat, panggilan kepada gereja untuk melakukan tindakan kasih sebagai wujud dari teologi yang berdasarkan firman Tuhan.

Tidak hanya teori tetapi harus menyatakan perwujudan iman kepada Kristus di dalam tindakan kasih kepada sesama sehingga Kristus dipermuliakan (Matus. 5:13-16; Yak. 2:14-26).  Dan orang-orang Kristen seharusnya juga tidak hanya dapat memberikan khotbah kepada orang-orang yang tertindas dan dalam kesusahan namun juga harus mengulurkan tangan kasih sebagai perwujudan yang nyata dari firman yang diberitakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s