Posisi Perempuan dalam Islam

Pendahuluan.

Allah  Swt.  berfirman  “kaum  lelaki  adalah  pemimpin  bagi perempuan”,  yakni  laki-laki  memimpin  perempuan;  dialah  pemimpin, hakim,  dan  pendidiknya  bila  perempuan  itu  menyimpang.    “Sebab,  Allah telah  melebihkan  sebagian  mereka  atas  sebagian  yang  lain”,  yakni  karena laki-laki  lebih  utama  daripada  perempuan  dan  laki-laki  lebih  baik  daripada perempuan. Karena itulah kenabian hanya dikhususkan bagi laki-laki, begitu pula kekuasaan tertinggi berdasarkan sabda Nabi  Muhammad Saw.  “Tidak akan beruntung  suatu  kaum  yang  menyerahkan  pimpinannya  kepada perempuan, “ (Hadist Riwayat Bukhari). Menurut kaum peminis ini sangat tidak adil bagi para perempuan yang berkarir apalagi yang terjun dalam bidang politik, dan menurut al-Qhardhawy penafsiran itu kurang tepat dan akan di urai dalam makalah ini.

 

1 Pengertian Politik Islam 

Politik  dalam  bahasa  Arab  disebut  al-siyasah[1],  merupakan  mashdar  dari  kata  kerjanya  saasa-yasuusu,  dan  pelakunya  disebut  saais.  Ini merupakan  kosa  kata  bahasa  Arab  asli.  Namun,  di  samping  itu    ada  pula  yang  berpendapat  bahwa  kata  tersebut  diadopsi  dari  bahasa  lain,  meskipun  dalam kenyataannya pernyataan tersebut sulit dibuktikan.

Di dalam kamus bahasa Arab, Lisanul Arab, karangan  Ibnu Manzhur yang  selama  ini  dijadikan  rujukan baku  dalam  berbahasa  Arab  dijelaskan bahwa  saasa  itu  berasal  dari  kosa  kata  sawasa  dan  bentuk  mashdarnya   al-suus  berarti  kepemimpinan.  Dengan  demikian  bisa  dikatakan  saasuhum suusan  apabila  mereka  mengangkat  seseorang  menjadi  pemimpin  atau menjadikan seseorang untuk mengatur urusan politik.

Jika  dikatakan  sawasa  fulan  amra  bani  fulan  artinya  si  Fulan  diberi

mandat untuk memimpin Bani Fulan. Menurut  al  Jauhary,  jika  dikatakan  waswasa  al-rajulu  umura  al-nas  artinya  orang  itu  ditunjuk  menjadi  pemimpin  mereka  untuk  menangani  urusan mereka.

Dengan  demikian  jelaslah  bahwa  al-siyasah  merupakan  kosa  kata  Arab  asli,  tidak  diadopsi  dari bahasa  lain.  Adapun  yang  di  maksudkannya adalah  mengatur  rakyat  atau  menangani  urusan mereka  dan  yang mendatangkan kemaslahatan bagi mereka.

Secara  terminologi  para  ahli  memberikan  definisi  politik  dengan redaksi yang berbeda-beda, secara umum antara lain Budiardjo menyatakan : “Pada umumnya dikatakan bahwa politik (politics) adalah bermacam-macam kegiatan  dalam  suatu  sistem  politik  (atau  negara)  yang  menyangkut  proses menentukan  tujuan-tujuan  dari  sistem  itu  dan  melaksanakan  tujuan-tujuan

itu”[2] .

Al-Bahnasawi  memberikan  definisinya  lebih  terfokus  pada  tujuan  syari’at  yaitu  kemaslahatan  umat  manusia  :  “politik  adalah  cara  dan  upaya  menangani  masalah-masalah  rakyat  dengan  seperangkat  undang-undang  untuk  mewujudkan  kemaslahatan  dan  mencegah  hal-hal  yang  merugikan bagi  kepentingan  umat  manusia”[3].  Oleh  sebab  itu  Islam  dan  umat  Islam memberi  perhatian  pada  masalah  politik.

Dalam  hal  ini  Ibnu  Qoyyim mengemukakan:  “Allah  Swt.    mengutus  para  Rasul-Nya    dan    menurunkan  kitab-kitab  suci-Nya,  agar  manusia  melaksanakan  keadilan,  yaitu  keadilan yang  dilakukan  sesuai  dengan  prinsip-prinsip  langit  dan  bumi”[4].  Jika keadilan  muncul  dan  terlihat  dalam  cara  apa  pun,  maka  itulah syariat  Allah dan  agama-Nya.  Bahkan,  Allah  Swt.  telah  menjelaskan  bahwa  garis-garis yang  telah  ditetapkan  itu  dimaksudkan  untuk  mewujudkan  keadilan  di kalangan  hamba-hamba-Nya    dan  agar  manusia  berbuat  adil  di  muka  bumi.

Cara  apa  pun  yang  ditempuh  jika  sesuai  dengan  garis-garis  yang  telah  dijelaskan untuk mewujudkan keadilan adalah bagian dari  agama dan tidak bertentangan dengannya. Jadi, tidak dapat dikatakan bahwa politik yang adil itu  bertentangan  dengan  apa  yang  dikatakan  oleh  Syari’ah  melainkan  ia sesuai  dengan  apa  yang  dibawa  oleh  Syari’ah  dan  bahkan  bagian  integral

dari padanya.

Sejalan  dengan  pernyataan  di  atas,  Imam  Syafi’i  memberi  definisi bahwa politik adalah hal-hal yang bersesuaian dengan syara’. Pengertian ini dijelaskan  oleh  Ibnu  Agil  bahwa  politik  adalah  hal-hal  praktis  yang  lebih mendekati  kemaslahatan  bagi  manusia  dan  lebih  jauh  dari  kerusakan meskipun  tidak  digariskan  oleh  Rasulullah  Saw.  atau  dibawa  oleh  wahyu Allah  Swt.  Oleh  karenanya  politik  dalam  pengertian  menangani permasalahan-permasalahan komunitas telah diisyaratkan dan diperintahkan oleh  Allah,  bahkan  telah  menjadi  bagian  tugas  dari  kerasulan,  sebagaimana

firman Allah dalam Q.S. Al-Hadid (57) : 25 :

 “Sesungguhnya  Kami  telah  mengutus  Rasul-rasul  Kami  dengan membawa   bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka  al-Kitab  dan      neraca    (keadilan)    supaya      manusia    dapat  melaksanakan keadilan.”

2. Prinsip Politik Islam

Dalam  menata  kehidupan  sosial  politik  pada  masyarakat  Madinah,  Rasulullah  Saw.  melakukan  pendekatannya  melalui  dua  jalur.  Pertama  ; Menata intern kehidupan kaum  muslimin, dengan mempersaudarakan kaum Muhajirin  dan  Anshar  secara  efektif  dengan  ikatan  keimanan.  Kedua;  Nabi mempersatukan  antara  kaum  muslimin  dan  kaum  Yahudi  bersama  sekutu-sekutunya  melalui perjanjian  tertulis  yang  terkenal  dengan  “Piagam Madinah”, suatu perjanjian yang menetapkan persamaan hak dan kewajiban semua komunitas dalam kehidupan sosial dan politik.

Di  dalam  Shahih  Bukhari,  Muslim,  Abu  Daud,  dan  Ahmad  ibn Hanbal,  Piagam  Madinah  ini  dikenal  dengan  sebutan  “Shahifah,  Al-Kitab atau  Watsiqah”,  kemudian  para  peneliti  mengartikannya  dengan  perjanjian, undang-undang,  konstitusi  atau  piagam,  yang  isinya  menurut  Suyuthi Pulungan[5] terdiri dari 47 pasal, yang secara garis besarnya  memuat prinsip-prinsip  ketatanegaraan,  di  antaranya :  prinsip    umat  yang  satu,  prinsip persatuan  dan  persaudaraan,  prinsip  persamaan,  prinsip  kebebasan,  prinsip tolong  menolong  dan  membela  yang  teraniaya,  prinsip  hidup  bertetangga, prinsip  keadilan,  prinsip  musyawarah,  prinsip  pelaksanaan  hukum,  prinsip kebebasan  beragama, prinsip  hubungan  antar  bangsa/internasional,  prinsip pertahanan  dan  perdamaian,  prinsip  amar ma’ruf  dan  nahi  munkar,  prinsip kepemimpinan serta prinsip ketakwaan dan disiplin.

Sedangkan    Salim  Ali  al-Bahnasawi  memerincinya  lebih  detail  lagi, yang  menurutnya  Piagam  Madinah  itu  memuat  69  pasal  atau  butir[6].  Pasal-pasal tersebut apabila diklasifikasikan terbagi kepada empat bagian;  bagian

pertama  menyangkut  hak  dan  kewajiban  kaum  muslimin,  bagian  kedua menyangkut  hak  dan  kewajiban  non  muslim,  bagian ketiga  tanggung  jawab bersama  antara  kaum  muslim  dan  non  muslim  dalam  mempertahankan negara,  dan  bagian  keempat  menyangkut  persamaan  hak  dan  kewajiban antara kaum muslim dan non muslim dalam hal bela negara.

Adapun  ayat-ayat  al-Qur’an  yang  berkaitan  dengan  aspek  kehidupan politik  cukup  banyak,  namun  yang  menyangkut  prinsip-prinsip  penggunaankekuasaan politik secara ekplisit terdapat pada dua ayat al-Qur’an Surast An-Nisa (4) : 58-59 sebagai berikut :

“(58)  Sesungguhnya  Allah  menyuruh  kalian  menyampaikan  amanat (titipan)  kepada  (mereka)  yang  berhak  menerimanya,  dan  (menyuruh kalian)  apabila  menetapkan  hukum  diantara  manusia  agar  kalian menetapkannya  dengan  adil.  Sesungguhnya  Allah  memberikan pengajaran  yang  sebaik-baiknya  kepada  kalian.  Sesungguhnya  Allah Maha  Mendengar  dan  Maha  Melihat.  (59)  Wahai  orang-orang  yang beriman  taatilah  Allah  dan  taatilah  Rasul-Nya  dan  pemimpin  kalian. Kemudian  jika  kalian  berlainan  pendapat  tentang  sesuatu,  maka kembalikanlah  kepada  Allah  dan  Rasul,  jika  kalian  benar-benar percaya  kepada  Allah  dan  Hari  Kemudian,  sikap  demikian  itu  lebih utama (bagi kalian) dan akan lebih baik kesudahannya”

Adanya  kepemimpinan  umat  adalah  suatu  kewajiban  dan  merupakan bagian terpenting dari ajaran agama, bahkan agama tidak akan berdiri tanpa adanya  kepemimpinan  umat  (wilayat  al-amr).  Pemikiran  Ibn  Taimiyah  ini sejalan dengan salah satu prinsip yang menyatakan bahwa politik dan hukum harus bekerja sama dan saling menguatkan melalui ungkapan “Hukum tanpa kekuasaan adalah angan-angan, kekuasaan tanpa hukum adalah kelaliman”[7]. Ibn  Taimiyah  lebih  menegaskan  lagi  bahwa  “penguasa  adalah  bayang-bayang Allah di muka bumi”[8].  Rasyid  Ridha  berpendapat  bahwa  kandungan  ayat  tersebut  sudah mencukupi  untuk  menjalankan  pemerintahan  meskipun  tidak  ada  lagi  ayat lain yang turun berkenaan dengan kehidupan politik.[9]

3. Sketsa Tentang Yusuf Al-Qardhawi

Dr.  Yusuf  al-Qardhawi  nama  lengkapnya  adalah  Yusuf  bin  Abdullah al-Qardhawi dilahirkan pada tahun 1926 M di sebuah desa beranama Shafth Turab, daerah pertanian yang subur di wilayah propinsi Barat Mesir.  Beliau dibesarkan  pada  keluarga  dan  lingkungan  yang  agamis  dan  berperadaban.  Mata pencaharian penduduk pada umumnya adalah bercocok tanam. Pada  usia  tujuh  tahun  oleh  pamannya  disekolahkan  pada  Madrasah Ilzamiyyah.  Beliau  tercatat  sebagai  murid  yang  berprestasi  tinggi,  sehingga sebelum usianya genap sepuluh tahun telah berhasil menghafal al-Qur’an al-Karim. Setelah  selesai  dari  Madrasah  Ilzamiyah,  beliau  melanjutkan sekolahnya  ke  Madrasah  Ibtidaiyyah  “Thantha”  dan  menyelesaikannya hanya  dalam  kurun  waktu  empat  tahun.  Kemudian  dilanjutkan  ke Tsanawiyah dan dapat diselesaikan sebelum waktunya.

Setelah  beranjak  dewasa,  Yusuf  al-Qardhawi  pergi  ke  Kairo  untuk melanjutkan  studinya  di  Perguruan  Tinggi,  Universitas  al-Azhar  pada Fakultas  Ushuluddin.  Pada  tahun  1952  beliau  memperoleh  ijazah  S-1, kemudian  melanjutkan  S-2  jurusan  bahasa  Arab  dengan  konsentrasi  pada

pendidikan dan pengajaran serta berhasil memperoleh ijazah S-2. Kemudian beliau  masuk  ke  Lembaga  Kajian  dan  Pengembangan  Bahasa  Arab Internasional, dan berhasil memperoleh gelar Diploma pada Jurusan Bahasa dan  Adab.  Pada  tahun  yang  sama, beliau  masuk  pendidikan  tinggi  (S-3) qismud dirasah bidang al-Qur’an dan al-Sunnah di Fakultas Ushuluddin dan berhasil  menyelesaikannya  pada  tahun  1960  M.  Dari  sana  beliau mempersiapkan  disertasinya  tentang  zakat  untuk  memperoleh  gelar  Doktor.

Disertasi tersebut seharusnya diselesaikan dua tahun. Namun, karena situasi yang dialami gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir pada saat itu, beliau tidak berhasil  menyelesaikan  target  tersebut  dan  baru  berhasil  menyelesaikannya pada tahun 1973 M.

Pada  tahun  1961,  Al-Qardhawi  ditugaskan  ke  negara  Qatar  sebagai pemimpin  Lembaga  Pendidikan  Agama  Tingkat  Menengah.  Pada  tahun 1973,  didirikanlah  Fakultas  Tarbiyah  yang  merupakan  cikal  bakal Universitas  Qatar.  Kemudian  beliau  dipindahkan  ke  sana  untuk  mendirikan sekaligus memimpin bagian Dirasah Islamiyah (Islamic Studies). Pada tahun 1977, ia merintis dan mendirikan Fakultas Syari’ah dan Dirasah Islamiyah di Universitas Qatar.

Yusuf  al-Qardhawi    memiliki  karya  tulis  yang  jumlahnya  lebih  dari tujuh puluh buah. Jumlah tersebut sangat besar jika dilihat dari waktu luang yang dimilikinya untuk menulis.  Al-Qardhawi,  di  sepanjang  hidupnya,  tidak  pernah  kenal  lelah  dan tidak pula merasa jenuh untuk menuangkan buah pikirannya melalui tulisan-tulisannya  yang  sangat  berharga  bagi  kaum  muslimin.  Di  samping  sibuk menulis,  juga  beliau  cukup  disibukkan  dengan  mengajar  di  berbagai perguruan  tinggi,  di  samping  menyampaikan  buah  pikirannya  dalam seminar, diskusi, wawancara, dialog, dan berbagai ceramah umum. Perlu  digarisbawahi  bahwa  sejak  awal  pemikiran-pemikiran  al-Qardhawi  terkenal  dengan  sikapnya  yang  moderat  (sikap  pertengahan).

Beliau  sendiri  menyatakannya  secara  tegas  :  “Segala  puji  bagi  Allah  Swt. yang  telah  memberikan  karunia  kepada  saya  sejak  awal  kehidupan.  Pemikiran dan dakwah saya untuk membangun jalan tengah yang didasarkan pada teori  keseimbangan  (al-tawasuth)    yang  komprehensif, jauh  dari sikap ifrath  (pengagungan  yang  berlebihan),  dan  tafrith  (sikap  meremehkan  yang berlebihan)1[10].

Pemikiran  ketatanegaraan  Al-Qardhawi  hampir  mirip  dengan  para pemimpin  terkemuka  gerakan  Ikhwanul  Muslimin,  karena  ia  merupakan salah seorang pengikut Jama’ah Ikhwanul Muslimin yang terkemuka. Beliau memiliki  aktivitas  besar  dalam  penyebaran  dakwah  jama’ah  tersebut  di

dalam dan di luar Mesir, khususnya ketika beliau berada di Qatar. Di saat itu al-Qardhawi  mempunyai  aktivitas  yang  besar  dan  pengaruh  yang  luas  di masyarakat Qatar, baik di kalangan tua maupun di kalangan remaja. Kegiatan  terakhir  al-Qardhawi  adalah  aktif  di  dunia  internet  dengan tujuan  menyebarkan  tulisan  yang  diberi  nama  “Lembaga  Dr.  Yusuf    al-Qardhawi.”  Semua  itu menunjukkan  tingkat  ketekunan,  kesabaran,  dan semangat  al-Qardhawi  dalam  menyebarluaskan  pemikirannya.  Namun aktifitasnya  ini  tidak  luput  dari  cercaan  dan  makian,  karena  dianggap  telah menyimpang dari ajaran salaf al-shalih.

4. Posisi Wanita Dalam Pandangan Politik Al-Qardhawi

1. Syarat-Syarat Menjadi Kepala Negara

Taqiyuddin al-Nabhani menegaskan, seorang kepala negara (khalifah)  dapat  dibai’at  apabila  memenuhi  tujuh  syarat  yaitu[11]  :  muslim,  laki-laki, baligh, berakal, adil, merdeka, dan mampu melaksanakan amanat khilafah.

Pertama,  muslim,  karena  secara  mutlak  kaum  muslimin  tidak diperbolehkan mengangkatpimpinannya dari kalangan kaum kafir. Larangan tersebut  banyak  dijumpai  dalam  ayat-ayat  al-Qur’an,  antara  lain  pada  Surat An-Nisa: 144, 141, Ali mran : 28, 118, dan al-Mumtahanah : 1. “Hai  orang-orang  yang  beriman,  janganlah  kalian  mengambil  orang-orang  kafir  menjadi  wali dengan  meninggalkan  orang-orang  mu’min. Inginkah  kalian  mengadakan  alasan  yang  nyata  bagi  Allah  (untuk menyiksamu)?” An-Nisa : 144

Kedua,  laki-laki.  Jadi,  wanita  tidak  bisa  menjadi  khalifah,  imam,  ulil amri,  atau  kepala  negara.  Adapun  alasannya  adalah  hadis  Nabi  yang bersumber dari Abi Bakrah, ketika sampai berita kepada Nabi bahwa bangsa Persia telah mengangkat putri Kisra sebagai ratu, maka beliau bersabda : “Tidak  akan  pernah  beruntung  suatu  kaum  yang  menyerahkan kekuasaan (pemerintahan) mereka kepada seorang wanita”.  Berdasarkan  hadis  tersebut  mayoritas  fuqaha  menetapkan  bahwa mengangkat seorang wanita sebagai penguasa adalah haram.

Ketiga, balig. Menurut syara’, orang yang belum balig tidak dibebani hukum.  Cukup  banyak  hadis-hadis  shahih  yang  menegaskan  bahwa  orang yang  belum  balig  seperti  halnya  anak  kecil  terbebaskan  dari  syara’,  seperti hadis yang diriwayatkan Abu Daud yang bersumber dari Ali bin Abi Thalib r.a. bahwasannya Rasulullah Saw. telah bersabda :  “Telah diangkat pena (tidak dibebankan hukum) atas tiga orang : anak kecil hingga mencapai akil balig, orang yang tidur hingga bangun, dan orang gila sampai akalnya sehat kembali”.

Keempat, berakal.  Jadi orang  yang  hilang  akalnya  tidak  boleh diangkat menjadi kepala negara, sebagaimana hadis tersebut di atas.

Kelima, adil,  yaitu  orang  yang  konsisten  dalam  menjalankan agamanya.  Orang  fasiq  tidak  boleh  diangkat  menjadi  pemimpin.  Untuk menjadi seorang saksi  saja  Allah  Swt. mensyaratkan adil,  maka  apalagi untuk  menjadi  seorang  kepala  negara.  Firman Allah pada Surat At Thalaq (65) : 2

“Apabila  mereka  telah  mendekati  akhir  iddahnya,  maka  rujukilah mereka  dengan  baik  atau  lepaskanlah  mereka  dengan  baik,  dan persaksikanlah  dengan  dua  saksi  yang    adil  di  antara  kamu  dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah semata”.

Keenam,  merdeka,  artinya  seorang  hamba  sahaya  tidak  sah  untuk  dijadikan  seorang  kepala negara,  karena  dia  milik  tuannya  sehingga  tidak memiliki wewenang untuk mengatur, bahkan terhadap dirinya sendiri.

Ketujuh,  mampu  melaksanakan  amanat  khilafah,  sebab  ini  termasuk hal  yang  dituntut  dalam  bai’at.  Jadi, bai’at itu tidak  sah  kepada  seseorang yang tidak sanggup mengemban amanat umat.

Al-Qardhawi  menambahkan  penegasan  bahwa  Islam  memberikan beban  tanggung  jawab  politik  kepada  setiap  muslim,  agar  hidup  berada dalam  suatu  daulah  (negara)  yang  dipimpin  oleh  pemimpin  muslim  yang berhukum kepada Kitab Allah.

Ketujuh  syarat  yang  dikemukakan  Taqiyuddin  al-Nabhani  di  atas, hampir  seluruh  ulama  salaf  dan  khalaf  menyepakatinya.  Akan  tetapi  al-Qardhawi  memandang,  kepemimpinan  seorang  kepala  negara  di  masa sekarang  ini  kekuasaannya  tidak  sama  dengan  seorang  ratu  atau  khalifah  di

masa  lalu  yang  identik  dengan  seorang  imam  dalam  Shalat.  Pemikiran  al-Qardhawi selengkapnya dapat dilihat pada pembahasan berikut.

2. Wanita  Sebagai Dewan Perwakilan Rakyat

Yusuf al-Qardhawi menyejajarkan kedudukan wanita dengan laki-laki dalam  peranannya  sebagai  anggota  Dewan  Perwakilan  Rakyat  (DPR) ataupun  sebagai  anggota  Majelis  Permusyawaratan  Rakyat  (MPR), sepenuhnya  memiliki  hak  memilih  dan  hak  dipilih.  Ia  beralasan  bahwa wanita  dewasa  adalah    manusia  mukallaf  (diberi  tanggung  jawab)  secara utuh,  yang  dituntut  untuk  beribadat  kepada  Allah,  menegakkan  agama, melaksanakan  kewajiban,  menjauhi  larangan-Nya,  berdakwah  untuk agamaNya,  dan  berkewajiban  melakukan  amar  ma’ruf  dan  nahyi  munkar

seperti halnya kaum pria[12].

Beliau  menegaskan  bahwa  seluruh  seruan  dan  himbauan  Allah  di dalam  al-Qur’an  mencakup kaum  wanita,  kecuali  dalam  hal-hal  tertentu yang    dikhususkan  untuk  kaum  pria.  Manakala  Allah berfirman  :    “Hai manusia,”  atau  “hai  orang-orang  yang  beriman  “,  maka  menurut  salaf  al-shalihbahwa itu termasuk kaum wanita. Pendapat ini dapat diterima semua pihak tanpa diragukan. Dalam  suatu  riwayat  disebutkan  ketika  istri  Nabi  Saw.  Ummu Salamah, mendengar seruannya: “Hai manusia”,  padahal saat itu dia sedang sibuk  mengerjakan  sesuatu,  dia  tinggalkan  pekerjaannya  dan  segera  memenuhi himbauan itu. Akibatnya, sebagian orang heran atas kesigapannya memenuhi  himbauan  Rasulullah.  Ketika  ditanya  orang,  dia  menjawab dengan tegas : “saya termasuk manusia”[13].

Kesejajaran  wanita  dan  pria  dalam  hal  menyuarakan  haknya  di lembaga  DPR  ataupun MPR  adalah  sesuatu  yang  sangat  biasa  dan  wajar, bahkan  dalam  hal-hal  tertentu  yang  menyangkut  persoalan  wanita, merekalah yang lebih dominan dalam membahas dan memecahkannya.  Dalam memahami ayat al-Qur’an pada Surat An-Nisa (4) : 34 “Kaum  laki-laki  itu  adalah  pemimpin  bagi  kaum  wanita,  oleh  karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka ( laki-laki) telah menafkahkan sebagian harta mereka….”

Al-Qardhawi menegaskan, yang dimaksud dalam ayat tersebut bahwa kaum  lelaki  adalah  pemimpin  kaum  wanita,  berkaitan  dengan  kehidupan suami-isteri, bukan dalam urusan pemerintahan. Menurutnya, Firman Allah yang mengatakan “Karena mereka (lelaki) telah  menafkahkan  sebagian  dari  harta  mereka”  menunjukkan  kepada  kita bahwa  maksud  kepemimpinan  di  sini  adalah  kepemimpinan  atas  keluarga, yaitu  kelebihan  atau  tingkatan  yang  diberikan  Allah  kepada  mereka  seperti yang tercantum dalam firman-Nya : “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf, akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan ….” (al-Baqarah ayat 228). Meskipun laki-laki itu berperan sebagai pemimpin dalam keluarga, ini

tidak  berarti    segala  sesuatu  secara  mutlak  berada  di  tangannya,  sehingga sang  isteri tidak  memiliki  hak  koreksi  terhadap  dirinya,  karena  secara tegas al-Qur’an  mengisyaratkan  harus  adanya  musyawarah  di  antara  keduanya. Pendapat dan koreksian isterinya harus diperhatikan dalam berbagai masalah yang  berkaitan  dengan  keluarga,  umpamanya  yang  diisyaratkan  al-Qur’an ketika  menyinggung  masalah  menyapih  anak  :  “Apabila  keduanya  ingin menyapih  (sebelum  dua  tahun)  dengan  kerelaan  keduanya  dan permusyawaratan,  maka  tidak  ada  dosa  atas  keduanya”  Al-Baqarah  (2)  : 223.

Secara  tegas  dalam  sebuah  hadits  yang  diriwayatkan  Imam  Ahmad, suami  diperintahkan  agar  bermusyawarah  dengan  kaum  wanita  dalam  hal perkawinan putra putri mereka :  “Bermusyawarahlah  dengan  kaum  wanita  dalam  masalah (perkawinan) putri-putri mereka”. Lebih  jauh  al-Qardhawi  menegaskan,  tidak  ada  satu  dalil  pun  dari syara’ yang menghalangi keanggotaan wanita di DPR atau MPR, karena pada dasarnya  segala  persoalan  (keduniaan)  itu  dibolehkan,  kecuali  apabila  ada teks tegas yang melarangnya.

3. Wanita Sebagai Kepala Negara

Di  kalangan  fuqaha  hampir  sepakat  bahwa  seorang  wanita  tidak diperbolehkan  atau  dilarang  menjadi  seorang  kepala  negara,  karena  identik dengan  seorang  imam  atau  khalifah.  Pelarangan  wanita  untuk  menjadi kepala negara adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Bakrah;  Nabi  Saw.  bersabda  ketika  beliau  mendengar  bahwa  orang-orang Persia mengangkat putri Kisra setelah dia wafat sebagai pemimpin. “Tidak  akan  pernah  beruntung  suatu  kaum  yang  menyerahkan kekuasaan (pemerintahan) mereka kepada seorang wanita”.

Berkenaan  dengan  hadis  tersebut,  Yusuf  al-Qardhawi  mengo-mentarinya dengan panjang lebardalam kitabnya, Min Fiqh al-Daulah fi al-Islam, di antaranya sebagai berikut[14]:

Pertama: Apakah hadits ini dipahami berdasarkan keumuman lafalnya atau berdasarkan sebab munculnya ? Nampaknya,  di  sini  Rasulullah  ingin  memberitahukan  ketidak-suksesan  bangsa  Persia,  yang  dipaksa  menerima  sistem  kerajaan  turun temurun,  kemudian  diperintah  oleh  putri  kaisar,  walaupun  di  kalangan mereka  banyak  terdapat  orang  yang  lebih  mampu  dan  pantas.  Ini menunjukkan bahwa sebab turunnya ayat dan sebab munculnya hadits harus diperhatikan  dalam  memahami  teks,  sementara  keumuman  lafal  tidak  dapat dijadikan sebagai kaedah dan postulat.

Apabila  hadits  itu  hanya  dipahami  menurut  umumnya  semata,  tentu berlawanan  dengan  lahiriyah  ayat  al-Qur’an  yang  menceritakan  kisah seorang  wanita  (Ratu  Balqis)  yang  memimpin  kaumnya  dengan kepemimpinan yang bijaksana dan adil, serta selalu bertindak baik dan tepat. Dia berhasil selamat dari peperangan yang merugikan, menghancurkan harta benda  dan  tentara,  dan  pada  akhirnya  tidak  mendatangkan  bahaya  apa-apa.

Pemerintahannya berdasarkan musyawarah: “Saya tidak pernah memutuskan perkara    sebelum  kamu  berada  dalam  majlisku.”  Namun  demikian,  mereka menyerahkan persoalan kepadanya. Firman Allah Surat An-Naml (27) : 33 “Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan  (juga)  memiliki  keberanian  yang  sangat  (dalam  peperangan), dan keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan.”  Demikianlah kisah ratu Saba’ dengan Nabi Sulaiman yang diceritakan oleh  al-Qur’an  dalam  surat  al-Naml    (27)  :  44    yang  berakhir  dengan ucapannya: “Dikatakan  kepadanya  masuklah  ke  dalam  istana,  maka  tetkala  dia melihat  lantai  istana  itu  dikiranya  kolam  air  yang  besar,  dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca. Berkatalah Balqis: Ya Tuhanku sesungguhnya  aku  telah  berbuat  zalim  terhadap  diriku  dan  aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.”

Kedua  :  Para  ulama  sudah  sepakat  melarang  wanita  mengemban kepemimpinan  tertinggi  atau  Imanah    ‘Uzhma.  Inilah  yang  dimaksud  oleh hadis di atas, sebagaimana yang bisa dilihat dari sebab munculnya hadits itu, bahkan  lafalnya  sendiri  menegaskan  hal  tersebut,  “mereka  mengangkat wanita sebagai pemimpin”, dalam riwayat lain disebutkan,  “wanitalah yang memimpin  mereka”.    Jadi,  yang  dimaksud  oleh  hadits  ini  adalah  larangan bagi  wanita  menjadi  khalifah,  pemimpin  umum  kaum  muslimin.  Sistemkepemimpinan  ini  tidak  terdapat  sekarang,  sejak  benteng  khilafah  terakhir dihancurkan  oleh  Ataturk  tahun  1924.  Sebagian  ulama  mungkin  saja menganalogikan  dengan  kasus  ini,  bila  wanita  menjadi  seorang  kepala negara  yang  mempunyai  pengaruh  dan  berkuasa  penuh  terhadap  kaumnya. Dengan  demikian,  mereka  telah  mengangkat  wanita  itu  sebagai pemimpinnya.  Artinya,  wanita  tersebut  menguasai  semua  persoalan  mereka dan berbuat sekehendaknya.

Ketiga  :  Masyarakat  kontemporer  di  bawah  sistem  demokrasi,  ketika mengangkat wanita sebagai menteri atau jabatan lainnya, tidak berarti bahwa masyarakat  itu  menguasakan  seorang  wanita  menjadi  pemimpin  dan menyerahkan segala persoalan kepadanya. Kita  dapat  mengerti  bahwa  pemerintahan  Margaret  Thatcher  di Inggris,  Indira  Gandhi  di  India,  atau    Golda  Meir  di  tanah  pendudukan Palestina,  bila  diamati  secara  mendalam,  bukan  pemerintahan  seorang wanita  atas  suatu  bangsa,  melainkan  pemerintahan  berbagai  lembaga  dan sistem,  walaupun  puncak  kepemimpinannya  berada  pada  seorang  wanita. Yang memerintah sebenarnya adalah kabinet secara kolektif,  bukan perdana menteri.

Kesimpulan

1.  Yusuf  al-Qardhawi  memandang  kedudukan  wanita  dalam  sistem  politik sama  halnya  dengan  kaum  pria.  Beliau  menyejajarkan  kaum  wanita dengan kaum pria, karena dalam masalah politik keduanya memiliki hak yang sama, memiliki hak penuh untuk memilih dan hak dipilih. Menurut al-Qardhawi,  wanita  dewasa  adalah  manusia  mukallaf  (diberi  tanggung jawab)  secara  utuh,  yang  dituntut  untuk  beribadah  kepada  Allah, menegakkan  agama,  melaksanakan  kewajiban,  menjauhi  larangan-Nya, berdakwah untuk agama-Nya, dan berkewajiban  melakukan amar ma’ruf

nahi  munkar,  seperti  halnya  kaum  pria,  demikian  pula  dalam  hal  yang bertalian dengan masalah kenegaraan.

2.  Fatwa  al-Qardhawi  tentang  status  wanita  dalam  sistem  politik  Islam, dilihat sepintas nampaknya bertentangan dengan persyaratan-persyaratan yang  ditetapkan  ulama  salaf  dan  khalaf.  Mereka  menetapkan,  salah  satu syarat  untuk  menjadi  seorang  imam,  khalifah,  atau  amirul  mu’minin adalah al-rijal (seorang pria), artinya seorang wanita tidak boleh menjadi imam, khalifah, atau amirul mu’minin.

Sikap  al-Qardhawi  terhadap  syarat  yang  telah  ditetapkan  para  ulama tersebut  sedikit-pun  tidak  membantahnya,  akan  tetapi  manhaj (paradigma)  yang  dikembangkannya  selalu  dikaitkan  dengan  waqi’iyah (peristiwa  yang  terjadi)  pada  saat  ini,  karena  ayat-ayat  al-Qur’an  yang bertalian  dengan  hukum  diturunkan  selalu  sesuai  dan  sejalan  dengan peristiwa yang terjadi pada masa itu.

Al-Qardhawi  memandang  bahwa  masalah  presiden,  Dewan  Perwakilan Rakyat (DPR), dan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sama sekali tidak  identik  dengan  kepemimpinan  seorang  khalifah  atau  amirul mu’minin  yang  bersifat  individu.  Sedangkan  kepemimpinan  presiden, DPR ataupun MPR yang berkembang pada saat ini bersifat kolektif tidak bersifat individu.


[1]  Yusuf  al-Qardhawy.  Siyasah  al-Syar’iyah.  Maktabah  Wahbah,  Cairo  Mesir,  1419  H/ 1998.M, hlm. 33-34.

[2]  Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, Gramedia, Jakarta, 1982, hlm. 8.

[3] Salim  Ali  al-Bahnasawi,  Al-Syari’ah  al-Muftara  Alaliha,  Terj.Mustolah  Maufur,  Wawasan Sistem Politik Islam,  Pustaka al-Kautsar, Jakarta, 1995, hlm.23.

[4] Salim  Ali  al-Bahnasawi,  Al-Syari’ah  al-Muftara  Alaliha,  Terj.Mustolah  Maufur,  Wawasan Sistem Politik Islam,  Pustaka al-Kautsar, Jakarta, 1995, hlm.23.

[5] J.Suyuthi  Pulungan,  Prinsip-prinsip  Pemerintahan  Dalam  Piagam  Madinah  Ditinjau  dari  Pandangan  AL-Qur’an.,  Raja  Grafindo  Persada,  Jakarta,  1994, Salim Ali al-Bahnasawi, Of.cit, hlm.280-285.hlm.92.

[6] Salim Ali al-Bahnasawi, Of.cit, hlm.280-285.

[7] Moh.Mahfud.MD,  Politik  Hukum  di  Indonesia,  Cetakan  Pertama,  PT.Pustaka LP3S, Jakarta, 1999, hlm.13.

[8] Juhaya  S.Praja,  Filsafat  Hukum  Islam,  LPPM  Universitas  Islam  Bandung, Bandung, 1995,  hlm.93

[9] Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir al-Qur’an al-Hakim, Dar al-Fikr, Beirut-Lubnan, t.th, hlm.168.

[10] Yusuf al-Qardhawi, Fatawa Mu’ashirah, Dar al-Fikr al-Arabiyah, Mesir, 1990.

[11] Taqiyuddin al-Nabhanmi, Sistem Pemerintahan Islam,A-Izzah khazanah tsaqafah Islam, Bangil, 1996, hlm 67-70.

[12] Yusuf al-Qardhawi, Min Fiqh al-Daulah fi al-Islam, Op. cit,  hlm. 207.

[13] Ibid. hlm. 209-212.

[14] Ibid, hlm. 209-212.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s